Kisah Serma Priyo Widodo, anggota TNI Angkatan Darat, kembali beredar di media sosial. Ia dikenal pernah menjalani pekerjaan sampingan sebagai pemulung dan pengumpul barang bekas setelah selesai menjalankan tugasnya sebagai prajurit.

Kisah tersebut sebenarnya bukan cerita baru. Laporan mengenai Serma Priyo telah dimuat media sejak 2016. Saat itu, ia disebut bertugas di Kodim 0814 Palembang dan menjalani aktivitas mengumpulkan barang bekas untuk menambah penghasilan keluarga.
Menurut laporan tersebut, Priyo mulai menggeluti pekerjaan mengumpulkan barang bekas sejak 2013. Ia memilih usaha tersebut setelah sejumlah usaha lain yang pernah dijalankannya, termasuk peternakan dan kolam ikan, tidak berhasil.

Setelah pulang bertugas, Priyo kerap mencari barang bekas di sekitar tempat tinggalnya. Barang-barang tersebut kemudian dipilah dan dijual kepada agen barang bekas. Ia juga disebut membeli barang bekas milik warga sekitar untuk dikumpulkan kembali.
Pekerjaan itu tidak selalu mendapat respons positif dari lingkungan. Priyo mengaku sempat mendapat ejekan karena pekerjaannya sebagai pemulung. Namun, ia tetap menjalaninya karena menganggap pekerjaan tersebut halal dan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Dalam laporan yang sama, usaha barang bekas yang dijalankan Priyo bersama keluarganya disebut berkembang. Pada saat itu, hasil penjualan barang bekas bahkan dilaporkan dapat mencapai sekitar Rp10 juta per bulan.

Kisah Priyo kemudian kembali menjadi perhatian setelah unggahan media sosial membagikan kembali cerita tersebut dengan narasi bahwa ia tetap memilih mencari nafkah secara halal meski mendapat cibiran.

Namun, perlu dicatat bahwa informasi yang paling kuat ditemukan mengenai kisah tersebut berasal dari pemberitaan lama pada 2016. Karena itu, kondisi pekerjaan, pangkat, maupun kehidupan Serma Priyo saat ini tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan unggahan yang kembali viral.
Cerita ini pada akhirnya lebih banyak menyoroti pilihan seseorang dalam mencari penghasilan tambahan secara halal dan tidak merendahkan pekerjaan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.