Stasiun Kami-Shirataki di Hokkaido, Jepang, pernah nyaris tidak memiliki penumpang. Japan Railway atau JR semula berencana menutup stasiun tersebut karena tidak lagi dianggap menguntungkan untuk dioperasikan.

Rencana itu ditunda setelah diketahui bahwa seorang siswi SMA masih rutin menggunakan kereta dari stasiun tersebut untuk pergi dan pulang sekolah. Keberadaan satu penumpang membuat JR memilih mempertahankan layanan itu lebih lama.

Jadwal perjalanan kemudian disesuaikan dengan kebutuhan sekolah sang siswi. Kereta berhenti dua kali sehari: mengantarnya pada pagi hari dan menjemputnya pada sore hari.

JR menetapkan penutupan stasiun setelah siswi tersebut menyelesaikan sekolah. Stasiun Kami-Shirataki akhirnya ditutup pada 26 Maret 2016, bertepatan dengan hari kelulusannya.

Kisah ini dikenal luas karena memperlihatkan bahwa keputusan layanan publik tidak selalu ditentukan semata-mata oleh jumlah pengguna atau keuntungan finansial. Dalam kasus ini, perjalanan kereta tetap dijalankan selama masih dibutuhkan oleh satu orang.
Penutupan Kami-Shirataki menandai berakhirnya layanan di sebuah stasiun terpencil yang selama beberapa waktu dipertahankan khusus untuk perjalanan seorang pelajar. Peristiwa itu kemudian menjadi contoh tentang bagaimana akses pendidikan dan kebutuhan warga dapat dipertimbangkan dalam pengelolaan transportasi.
