Minggu, 25 Oktober 2026
Masuk
Berita

Singapura Bayar Warganya yang Ingin Membaca, Untuk Lawan kebiasaan Scrolling

Singapura punya cara unik mendorong warganya membaca. Lewat ReadSG, peserta didorong membaca minimal 15 menit sehari dan mencatat aktivitasnya melalui CrowdTaskSG. Sesi yang memenuhi syarat mendapat koin virtual, dengan 1.000 koin bernilai S$1. Program ini diluncurkan NLB pada 6 September 2026.

Singapura meluncurkan ReadSG, gerakan membaca nasional selama lima tahun yang mendorong masyarakat membangun kebiasaan membaca setidaknya 15 menit setiap hari. Program ini diluncurkan National Library Board (NLB) pada 6 September 2026 bertepatan dengan National Reading Month pertama Singapura.

Yang membuat program ini menarik, peserta bisa memperoleh koin virtual setelah menyelesaikan aktivitas membaca yang ditentukan. Koin tersebut dikumpulkan melalui platform pemerintah CrowdTaskSG dan dapat ditukarkan menjadi nilai uang.

Dalam mekanisme yang dilaporkan setelah program berjalan, satu sesi membaca minimal 15 menit memberikan 20 koin virtual. Sementara itu, 1.000 koin memiliki nilai setara S$1 atau sekitar Rp12 ribu berdasarkan nilai tukar yang berubah-ubah.

Artinya, peserta perlu mengumpulkan sekitar 50 sesi membaca untuk mencapai 1.000 koin. Namun, program tersebut bukan sekadar skema “dibayar untuk membaca”, melainkan bagian dari strategi gamifikasi untuk membuat aktivitas membaca menjadi kebiasaan sehari-hari.

NLB memperkenalkan ReadSG sebagai pengganti National Reading Movement. Gerakan baru ini dibuat untuk merespons perubahan pola konsumsi informasi, termasuk semakin populernya konten singkat yang dapat membuat orang terbiasa membaca secara cepat dan sekilas.

Program tersebut juga berkaitan dengan hasil National Reading Habits Study 2024 yang dirilis NLB pada 2025. Survei itu menemukan 89 persen orang dewasa Singapura membaca lebih dari sekali dalam seminggu. Namun, buku hanya menjadi salah satu jenis bacaan, sementara berita dan artikel daring lebih banyak dibaca.

Selain ReadSG, NLB juga menjalankan Read for Good. Dalam program tersebut, aktivitas membaca selama 15 menit dapat dikaitkan dengan penggalangan dana untuk organisasi amal, sehingga peserta dapat menggunakan kebiasaan membaca mereka untuk mendukung kegiatan sosial.

ReadSG merupakan program nasional, tetapi mekanisme hadiahnya bukan berarti setiap orang otomatis menerima uang tunai hanya dengan membuka buku. Peserta perlu mengikuti mekanisme pencatatan dan tugas yang tersedia melalui platform CrowdTaskSG.

Program ini di buat untuk membentuk kebiasaan masyrakatnya untuk membaca dan meninggalkan kebiasaan scrolling

Konsep tersebut menggabungkan literasi, teknologi dan sistem penghargaan digital. Alih-alih melarang penggunaan ponsel secara langsung, pemerintah Singapura mencoba menawarkan aktivitas alternatif yang memberi manfaat sekaligus insentif kepada masyarakat.

Dengan program ini, membaca 15 menit sehari bukan hanya dianggap sebagai aktivitas pendidikan atau hiburan. Di Singapura, kebiasaan tersebut juga diberi “imbalan” digital untuk mendorong masyarakat lebih konsisten membaca.

Dwi Anggoro

Pewarta

Dwi Anggoro

seorang mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani kesehariannya dengan sederhana. Di sela aktivitas kuliah, Saya kerap menghabiskan waktu di angkringan untuk membaca, Menulis, dan menikmati suasana khas Jogja.