Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

Selamat dari Tsunami, Bidan Nur Asiah Tetap Menolong Ibu Melahirkan di Tengah Bencana

Bidan Nur Asiah selamat dari tsunami Aceh 2004, tetapi tetap kembali membantu warga. Di tengah keterbatasan fasilitas, ia menolong seorang ibu melahirkan bayi bernama Ahlan.

Di tengah dahsyatnya tsunami yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004, seorang bidan bernama Nur Asiah memilih tetap menjalankan tugasnya membantu warga yang membutuhkan pertolongan.

Pada 26 Desember 2004, gempa dan tsunami menerjang Aceh. Nur Asiah yang merupakan bidan di Aceh Jaya ikut menyelamatkan diri dengan berlari menuju dataran tinggi di pegunungan. Namun, di tengah pengungsian, ia bertemu seorang ibu bernama Eva yang hendak melahirkan.

Saat gempa besar mengguncang Aceh, Nur Asiah sedang berada di rumah mertuanya di sebuah desa pesisir Aceh Jaya. Ia kemudian menyelamatkan diri bersama anak-anak dan keluarga dengan berlari menuju daerah pegunungan setelah mendapat peringatan bahwa gelombang tsunami akan datang.

Meski berada dalam kondisi darurat dan tanpa fasilitas persalinan yang memadai, Nur Asiah menggunakan keahliannya sebagai bidan untuk bantu Eva melahirkan. Bayi yang lahir di tengah situasi pascatsunami itu kemudian diberi nama Ahlan. Ibu dan bayinya berhasil selamat.

Setelah berhasil menyelamatkan diri, Nur mendapat kabar mengenai seorang perempuan yang sedang hamil tua dan membutuhkan bantuan untuk melahirkan. Meski dirinya sendiri masih dalam kondisi trauma dan belum mengetahui keadaan suaminya, Nur memutuskan pergi membantu perempuan tersebut.

Tanpa rumah sakit, ruang bersalin, obat-obatan, maupun peralatan medis yang memadai, proses persalinan akhirnya dilakukan di ruang terbuka. Nur membantu persalinan tersebut di atas rumput dalam kondisi darurat dan penuh ketidakpastian. Sekitar pukul 22.00 waktu setempat, bayi tersebut berhasil lahir dengan selamat bersama ibunya.

Bayi itu kemudian diberi nama Ahlan oleh ibunya, Eva. Nama tersebut dipilih sebagai bentuk kenangan atas pertolongan Nur pada malam bencana. Eva dan Nur yang sebelumnya tidak saling mengenal kemudian menjadi sahabat. Bertahun-tahun setelah tsunami, keduanya bahkan masih tinggal berdekatan dan anak-anak mereka bersekolah di tempat yang sama.

Setelah tsunami, Nur tidak berhenti memberikan bantuan. Ia terus membantu para penyintas, terutama perempuan hamil, ibu, dan anak-anak, meskipun fasilitas kesehatan ketika itu sangat terbatas.

Kisah Nur Asiah kemudian menjadi salah satu contoh peran tenaga kesehatan lokal dalam penanganan korban tsunami Aceh. UNFPA mencatat bahwa Nur telah bekerja sebagai bidan sejak 1994 dan tetap menjalankan tugas kemanusiaannya setelah bencana.

Kisah tersebut juga menunjukkan bahwa di tengah bencana besar, pertolongan tidak selalu datang dari fasilitas medis yang lengkap. Dalam kasus Nur, keterampilan seorang bidan, keberanian, dan kemauan untuk membantu menjadi sangat berarti bagi seorang ibu dan bayi yang lahir di tengah situasi darurat.

Dwi Anggoro

Pewarta

Dwi Anggoro

seorang mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani kesehariannya dengan sederhana. Di sela aktivitas kuliah, Saya kerap menghabiskan waktu di angkringan untuk membaca, Menulis, dan menikmati suasana khas Jogja.