
Sanae Takaichi, Perdana Menteri Jepang sejak Oktober 2025, menetapkan krisis kesuburan dan penurunan populasi sebagai tantangan terbesar negara pada November 2025. Ia bentuk Markas Strategi Populasi untuk tindakan darurat, mengingat tingkat fertilitas turun ke 1,15 pada 2024, jauh di bawah 2,1 untuk penggantian populasi.
Data Krisis Demografi
Jepang catat kelahiran terendah 686.061 bayi tahun 2024, kematian 1,6 juta, sehingga populasi menyusut 908.574 orang untuk ke-16 kalinya berturut-turut. Hampir 30% penduduk usia di atas 65 tahun, picu kekurangan tenaga kerja dan beban ekonomi.
Respons Pemerintah
Takaichi janji ekspansi fiskal, insentif keuangan, cuti orang tua panjang, dan dukungan pengasuhan untuk balikkan tren sebelum 2030-an. Penyebab utama: biaya hidup tinggi, perubahan nilai keluarga muda, dan beban ibu.