Perjuangan sejumlah anak sekolah dasar di pedalaman Papua untuk menuntut ilmu kembali menjadi perhatian setelah video perjalanan mereka menuju sekolah beredar di media sosial.
Dalam video yang beredar, terlihat beberapa siswa berseragam sekolah berjalan melewati jalan tanah dan kawasan berbukit. Kondisi medan yang tidak mudah membuat perjalanan menuju sekolah membutuhkan waktu cukup lama.
Kisah serupa pernah diberitakan mengenai anak-anak di Lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. Mereka disebut harus berangkat dari rumah sekitar pukul 06.00 WIT dan menempuh perjalanan sekitar 1,5 hingga 2 jam untuk mencapai sekolah. Medan yang dilalui berupa jalan naik turun bukit dengan kondisi cuaca pegunungan yang dingin.
Dalam laporan tersebut, empat siswa bernama Arwan, Abdi, Faldo, dan Putri menjadi bagian dari kisah perjuangan tersebut. Mereka bahkan disebut beberapa kali terlambat tiba di sekolah karena jauhnya perjalanan. Kondisi itu kemudian dipahami oleh para guru yang mengetahui medan dan jarak yang harus mereka tempuh setiap hari.
Perjalanan panjang menuju sekolah bukan hanya terjadi di satu wilayah Papua. Indonesia Mengajar pernah mencatat siswa SD Inpres Pepera di Pegunungan Bintang harus berjalan kaki sekitar satu jam dari desa menuju sekolah. Medannya berat dan sebagian anak bahkan berjalan tanpa alas kaki.
Keterbatasan akses pendidikan di sejumlah daerah terpencil juga masih menjadi tantangan. Pada 2025, misalnya, pemerintah menyalurkan bantuan tas dan sepatu kepada siswa SD Inpres Isyaman di Kabupaten Mappi. Untuk mencapai sekolah tersebut, perjalanan dari wilayah perkotaan hingga ke kampung harus ditempuh melalui penerbangan, sungai, dan hutan dengan total waktu sekitar tujuh jam.
Kisah anak-anak tersebut menjadi gambaran bahwa bagi sebagian siswa di wilayah terpencil, pergi ke sekolah bukan sekadar berjalan dari rumah menuju ruang kelas. Mereka harus menghadapi jarak, medan yang berat, cuaca, serta keterbatasan transportasi demi mendapatkan pendidikan.
Meski demikian, foto dan video yang beredar saat ini belum memberikan informasi yang cukup untuk memastikan lokasi tepat dan identitas seluruh anak dalam rekaman tersebut. Karena itu, detail mengenai siapa saja anak yang terlihat dalam video sebaiknya tidak disimpulkan hanya berdasarkan unggahan media sosial.