Nama Rara, yang dikenal publik sebagai pawang hujan, kembali menjadi perbincangan setelah warganet meminta dirinya membantu mendatangkan hujan di Kalimantan yang tengah dilanda kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Permintaan tersebut muncul di tengah kekhawatiran masyarakat terhadap dampak kebakaran yang menimbulkan asap, merusak lingkungan, dan mengganggu aktivitas warga di sejumlah wilayah.
Melalui unggahan yang beredar di media sosial, Rara menyampaikan bahwa dirinya pernah terlibat dalam upaya penanganan karhutla pada 2015, 2019, dan 2023. Namun, kali ini ia mengaku tidak ingin langsung datang tanpa adanya jaminan keselamatan. Ia menyoroti risiko berada di kawasan yang masih terbakar, terutama ketika petugas dan relawan harus berhadapan dengan api, suhu tinggi, serta kondisi udara yang berbahaya.Rara menyebut bahwa pada 2015, 2019, dan 2023 dirinya pernah membantu penanganan karhutla di Kalimantan. Menurut pengakuannya, keterlibatan tersebut dilakukan bersama tim yang menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), dengan dukungan keamanan dan kebutuhan yang memadai. Ia merasa kondisi saat ini berbeda sehingga tidak ingin kembali ke lokasi tanpa kepastian perlindungan.
Meski tidak bersedia datang langsung, Rara mengaku tetap melakukan doa dan meditasi dari jarak jauh dengan harapan hujan turun di wilayah terdampak, termasuk Balikpapan dan Palangka Raya. Ia juga menyebut adanya hujan di sejumlah wilayah pada pertengahan Oktober 2026. Namun, klaim tersebut merupakan penuturan Rara dan tidak membuktikan bahwa hujan terjadi akibat aktivitas doa atau meditasi yang dilakukannya.
Di sisi lain, penanganan karhutla membutuhkan langkah nyata yang dapat dievaluasi, mulai dari pemadaman titik api, pengawasan lahan rawan, hingga upaya mencegah kebakaran berulang. Operasi Modifikasi Cuaca dapat menjadi salah satu langkah pendukung apabila kondisi atmosfer memungkinkan, tetapi keberhasilannya bergantung pada faktor meteorologis dan pelaksanaan teknis.
Perbincangan mengenai Rara pun memperlihatkan bagaimana bencana lingkungan dapat memunculkan berbagai harapan dan respons masyarakat. Di tengah beragam pandangan, perlindungan keselamatan petugas dan relawan, penanganan berbasis ilmu pengetahuan, serta pencegahan kebakaran tetap menjadi hal penting untuk mengurangi dampak karhutla terhadap lingkungan dan masyarakat.