Puluhan siswa dan guru dari TK hingga SMP di Cimahi, Jawa Barat, diduga mengalami keracunan massal setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 25 Februari 2026, memicu respons cepat Pemkot Cimahi untuk tutup sementara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Korban awal 24 orang meningkat menjadi 43, dengan gejala muntah berulang, mual, pusing, hingga sesak napas, tapi tak ada kondisi kritis setelah dirawat di RSUD Cibabat (20 orang), RS Mitra Kasih (3), dan RS Dustira (1).
Insiden terjadi di lima sekolah Kecamatan Cimahi Tengah: TK PGRI, TK Kartika, SDN Cimahi Mandiri 4, SDN Karangmekar Mandiri 1/5, dan SMPN 6, setelah santap paket MBG berisi onigiri (nasi kepal), telur rebus, apel, kurma, biskuit, serta susu murni yang dibagikan pagi hari. Siswa konsumsi waktu berbeda (siang hingga buka puasa Ramadan), gejala muncul 2-6 jam kemudian; Pemkot instruksikan hentikan konsumsi paket tersisa sore itu. Sampel makanan langsung uji di Labkesda Jabar untuk telusuri kontaminasi bakteri, logistik, atau penyimpanan salah.
Wakil Wali Kota Adhitia Yudisthira dirikan posko darurat di RSUD Cibabat, koordinasi Forkopimda (Kapolres, Dandim, DPRD) pantau pasien, dan distribusi korban jika overload. SPPG ditutup sementara hingga hasil lab keluar, proses produksi klaim ikut SOP tapi investigasi menyeluruh oleh Dinkes, Dinas Pendidikan, dan Satpol PP. Adhitia tekankan pencegahan ulang, buka hotline laporan gejala baru, dan evaluasi supplier MBG nasional program Prabowo.
Korban termasuk guru, observasi 24-48 jam stabilisasi; faktor Ramadan tingkatkan risiko karena lapar panjang. Kasus mirip keracunan MBG lain 2026, Pemkot audit higienis SPPG, koordinasi Kemendikbudristek pusat cegah eskalasi nasional. Hingga 27 Februari, semua korban pulih ringan, tapi Pemkot siaga penuh jelang Lebaran.