
Habib Rizieq Shihab (HRS) menyatakan keyakinannya bahwa Presiden Prabowo Subianto ingin menetapkan status bencana nasional untuk banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, serta Sumatera Barat, tetapi dihambat oleh orang-orang di sekitarnya. Pernyataan ini disampaikan dalam ceramah viral yang menjadi sorotan publik akhir Desember 2025. HRS tetap berhusnuzan pada Prabowo sambil mengkritik pihak terdekatnya.
Latar Belakang Bencana
Bencana hidrologi di Sumatera telah menewaskan 659 orang, 475 hilang, 2.600 luka, dan mengungsikan 1,1 juta jiwa dari total 3,2 juta terdampak. HRS menyoroti urgensi status bencana nasional untuk koordinasi bantuan maksimal, merujuk pengalamannya saat tsunami Aceh 2004. Ia membandingkan dengan sikap Prabowo di 2015 yang mendesak status serupa saat karhutla Riau di era Jokowi.
Kritik terhadap Lingkaran Prabowo
HRS menuding “pembisik-pembisik” atau menteri bermental “asal bapak senang” (ABS) yang beri laporan tidak faktual untuk hindari status bencana nasional. Ia mendesak Prabowo “jangan malu” tetapkan status tersebut demi korban. Tuduhan ini viral di media sosial dan berita nasional sejak 25-27 Desember 2025.
Respons dan Konteks
Hingga 27 Desember 2025, pemerintah belum tetapkan status bencana nasional meski Prabowo tinjau langsung lokasi. HRS sesali keterlambatan ini di Reuni Akbar 212 pada 2 Desember. Muzani (Gerindra) sebut alasan Prabowo belum tetapkan status darurat untuk hindari implikasi anggaran besar.