Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

Pevita Pearce Soroti Kabut Asap di Kuala Lumpur: “Malu, Get Well Soon Indonesia”

Pevita Pearce menyoroti kabut asap di Kuala Lumpur. 🌫️ Ia mengunggah foto kondisi kota dan menulis “Get well soon, Indonesia..” lalu “Malu”. Pada 21 September, Cheras mencatat API 155 atau kategori tidak sehat. Kabut asap dikaitkan dengan fenomena lintas batas, tetapi sumbernya tidak bisa disimpulkan hanya berasal dari satu titik karhutla di Indonesia.

Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Malaysia kembali menjadi perhatian publik. Aktris Pevita Pearce turut menyoroti kondisi tersebut setelah melihat langit Kuala Lumpur yang tampak berkabut dalam unggahan Instagram Story pada 21 September 2026.

Kabut asap kembali menyelimuti sejumlah wilayah Malaysia. Pada 20 September 2026, sebanyak 21 wilayah tercatat memiliki kualitas udara dalam kategori tidak sehat. Di kawasan Cheras, Kuala Lumpur, indeks pencemaran udara mencapai 133.

Pevita membagikan sejumlah foto yang memperlihatkan pandangan ke arah gedung-gedung di Kuala Lumpur tampak tertutup kabut. Dalam salah satu unggahan, ia menuliskan pesan singkat, “Get well soon, Indonesia..”

Kondisi tersebut turut disoroti Pevita Pearce melalui Instagram Story pada 21 September 2026. Ia membagikan pemandangan Kuala Lumpur yang tertutup kabut, kemudian menulis pesan, “Get well soon, Indonesia…”

Tidak lama kemudian, Pevita kembali mengunggah foto kondisi Kuala Lumpur dengan satu kata yang cukup menarik perhatian, yakni “Malu.” Unggahannya kemudian ramai dibicarakan di media sosial.

Dalam unggahan berikutnya, Pevita menulis satu kata, “Malu.” Kabut asap di Malaysia dilaporkan berkaitan dengan asap lintas batas dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Namun, sumber dan sebaran asap dapat dipengaruhi kondisi angin serta berbagai titik kebakaran.

Kabut asap memang terpantau di Malaysia

Pada 21 September pukul 08.30 waktu setempat, sebanyak 21 stasiun pemantauan kualitas udara di Malaysia mencatat indeks pencemaran udara atau API dalam kategori tidak sehat. Data tersebut berasal dari Department of Environment (DoE) Malaysia.

Di Kuala Lumpur, kawasan Cheras mencatat API 155 pada pagi hari. Dalam klasifikasi Malaysia, angka 101–200 masuk kategori “tidak sehat”. Pada sore hari, Cheras masih mencatat angka 157.

Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah wilayah lain. Sarawak menjadi salah satu kawasan yang paling terdampak, dengan beberapa lokasi seperti Kapit, Serian, Sibu, Sri Aman dan Bintulu mencatat angka API tinggi.

Pada 20 September, Cheras juga sempat mencatat API 133. Saat itu, 21 wilayah di Malaysia masuk kategori tidak sehat, sementara 41 wilayah berada pada kategori sedang.

Apakah asap tersebut berasal dari Indonesia?

Kabut asap di Malaysia memang dapat berkaitan dengan fenomena asap lintas batas atau transboundary haze di Asia Tenggara. Sejumlah laporan media mengaitkan kondisi terbaru dengan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.

Namun, sumber resmi yang ditemukan dalam penelusuran ini tidak menunjukkan bahwa seluruh kabut asap di Kuala Lumpur secara spesifik berasal dari satu lokasi karhutla tertentu di Indonesia. Arah angin, titik panas, kebakaran lokal, serta kondisi atmosfer juga dapat memengaruhi kualitas udara.

Karena itu, klaim bahwa “seluruh asap Kuala Lumpur berasal dari karhutla Indonesia” sebaiknya tidak disederhanakan tanpa data meteorologi dan pemodelan sumber asap.

Kondisi udara kemudian berubah

Data pemantauan menunjukkan kualitas udara Malaysia tidak berada pada kondisi yang sama sepanjang hari. Pada 22 September, rata-rata harian nasional Malaysia tercatat lebih rendah dibanding beberapa hari sebelumnya, meski sejumlah wilayah masih mengalami kualitas udara tidak sehat.

Di Kuala Lumpur, data mingguan Cheras menunjukkan kondisi masih berada dalam rentang tidak sehat pada sejumlah periode 16–22 September, meskipun angka menurun pada 22 September.

Bagi masyarakat, terutama anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan gangguan pernapasan atau jantung, otoritas Malaysia menganjurkan untuk memantau kualitas udara dan membatasi aktivitas luar ruangan ketika indeks berada pada level tidak sehat.

Sorotan Pevita akhirnya memperlihatkan bahwa persoalan karhutla tidak selalu berhenti di wilayah tempat kebakaran terjadi. Ketika kondisi atmosfer dan arah angin memungkinkan, dampak asap dapat dirasakan hingga wilayah negara tetangga.

Dwi Anggoro

Pewarta

Dwi Anggoro

seorang mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani kesehariannya dengan sederhana. Di sela aktivitas kuliah, Saya kerap menghabiskan waktu di angkringan untuk membaca, Menulis, dan menikmati suasana khas Jogja.