
Orang Indonesia cenderung suka membahas isu perselingkuhan karena fenomena ini sering viral di media sosial dan gosip sehari-hari, mencerminkan nilai budaya kolektivis di mana skandal rumah tangga jadi hiburan bersama.
Faktor Psikologis
Menurut psikologi sosial, diskusi intens ini berasal dari efek “social proof” dan “gossip bonding”, di mana membahas pengungkapan orang lain memperkuat ikatan kelompok sambil memuaskan rasa penasaran primal terhadap norma moral. Survei JustDating 2022 menempatkan Indonesia peringkat 2 Asia untuk perselingkuhan (40% responden), sehingga topik ini relevan dan memicu gambaran ketakutan pribadi atau kepuasan moral atasan.
Budaya dan Media
Budaya malu (budaya malu) di Indonesia membuat perselingkuhan menjadi tabu yang menarik, sementara platform seperti TikTok dan Instagram diperkuat dengan konten drama emosional untuk pertunangan tinggi. Psikolog seperti Winda menunda komitmen awal dalam hubungan sebagai akar, yang membuat diskusi jadi cara katarsis kolektif.