Kasus pencurian ternak di Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), berujung penembakan oleh polisi yang menewaskan seorang pria berinisial JT (39). Peristiwa tersebut kemudian memicu aksi protes massa hingga Polres Sumba Barat digeruduk warga.
Menurut Polda NTT, JT merupakan salah satu dari empat orang yang diduga terlibat dalam jaringan pencurian ternak dengan kekerasan dan pencurian dengan pemberatan di wilayah Sumba Barat dan Sumba Tengah. Tiga orang lainnya, yakni ASBL (46), KY (35), dan YKM, telah ditangkap.

Pengungkapan kasus tersebut berawal dari penyelidikan terhadap tiga laporan polisi terkait pencurian ternak yang berlangsung pada periode 2022 hingga 2026. Polisi menyebut salah satu kasus melibatkan kekerasan terhadap pemilik ternak hingga mengalami luka serius.
Pada Selasa (15/9/2026), polisi terlebih dahulu menangkap ASBL dan KY sekitar pukul 02.00 WITA. Dari hasil pemeriksaan, polisi kemudian menangkap YKM sekitar pukul 06.00 WITA. Informasi dari pemeriksaan tersebut mengarah kepada JT.
Sekitar pukul 09.40 WITA, petugas mendatangi rumah JT di Kampung Wai Makapal, Desa Bali Ledo, Kecamatan Loli. Menurut keterangan Polda NTT, JT kemudian menyerang petugas menggunakan parang ketika hendak ditangkap.
Polisi mengaku telah memberikan tiga kali tembakan peringatan ke udara. Karena JT disebut tetap melakukan perlawanan dan berusaha melarikan diri, petugas kemudian melepaskan tembakan untuk melumpuhkannya. Peluru mengenai bagian bahu setelah JT terjatuh.
JT kemudian dibawa ke Rumah Sakit Kristen Lende Moripa sekitar pukul 10.00 WITA. Namun, ia dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 10.20 WITA. Polda NTT menyebut tindakan tersebut sebagai penindakan terhadap pelaku pencurian dan kekerasan yang mereka nilai membahayakan petugas.
Setelah kabar kematian JT tersebar, situasi memanas. Keluarga dan sejumlah warga membawa jenazah ke Mapolres Sumba Barat sebagai bentuk protes. Massa kemudian merusak sejumlah fasilitas dan membakar sebuah mobil dinas kepolisian.

Polda NTT mengimbau masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, dan keluarga korban agar tetap tenang serta tidak terprovokasi informasi yang belum terverifikasi. Polisi juga menyatakan proses penanganan kasus akan dilakukan secara transparan.
Sementara itu, sejumlah laporan media menyebut keluarga mempertanyakan tuduhan terhadap JT dan proses penembakan. Keterangan tersebut berbeda dengan versi kepolisian yang menyatakan JT menyerang petugas dengan parang. Perbedaan keterangan ini penting dicatat karena proses hukum dan pemeriksaan lebih lanjut masih berlangsung.
Kasus ini pun tidak hanya menjadi perkara pencurian ternak, tetapi berkembang menjadi persoalan keamanan setelah kematian JT memicu kericuhan di sekitar Mapolres Sumba Barat. Polda NTT masih melakukan pengamanan untuk menjaga situasi tetap kondusif.