Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

Pelajar Meksiko Ciptakan Alat Pemadam Api dengan Gelombang Suara Tanpa Air dan Bahan Kimia

Pelajar Meksiko Ángela Karime Venegas Hernández meraih medali emas ISIF 2026 di Indonesia berkat Vortex Tech, prototipe pemadam api yang menggunakan gelombang suara 30 Hz. Inovasi ini berpotensi memadamkan api kecil tanpa air atau bahan kimia, tetapi masih membutuhkan pengembangan dan pengujian lebih lanjut.

Seorang pelajar asal Meksiko, Ángela Karime Venegas Hernández, berhasil menarik perhatian dunia setelah meraih medali emas dalam ajang International Science and Invention Fair (ISIF) 2026. Kompetisi internasional tersebut digelar di Universitas Indonesia, Depok, pada 13–17 Oktober 2026. Penghargaan itu diraih berkat inovasi alat pemadam api yang memanfaatkan gelombang suara, bukan air atau bahan kimia konvensional.

Inovasi yang diperkenalkan tersebut dikenal sebagai teknologi *Vortex Tech*. Berdasarkan informasi dalam unggahan Shiftmedia.id, alat ini menggunakan gelombang suara berfrekuensi rendah sekitar 30 Hz untuk mengganggu kestabilan nyala api. Pendekatan ini menawarkan alternatif pemadaman, terutama untuk kebakaran berskala kecil dalam kondisi tertentu.

Pengembangan alat ini bermula dari upaya sederhana untuk memadamkan nyala lilin. Setelah melalui serangkaian percobaan dan penyempurnaan prototipe, Ángela bersama pembimbingnya, José Arturo Hernández Muñoz, mengembangkan perangkat yang terdiri atas baterai 12 volt, generator frekuensi, penguat suara, dan pengeras suara. Menurut laporan media Meksiko, prototipe tersebut telah menjalani lebih dari 100 kali pengujian.

Cara kerjanya memanfaatkan gelombang akustik berfrekuensi rendah sekitar 30 hertz. Gelombang tersebut menghasilkan turbulensi udara dan membentuk pusaran yang dapat mengganggu pasokan oksigen di sekitar nyala api. Dalam pengujian yang dilaporkan, perangkat mampu memadamkan sejumlah api berskala kecil dalam hitungan detik.Keunggulan yang ditawarkan adalah proses pemadaman tanpa air, busa, atau bahan kimia pemadam tertentu, sehingga tidak meninggalkan residu seperti beberapa metode konvensional.

Teknologi ini berpotensi menarik untuk dikembangkan, terutama pada situasi ketika residu pemadam dapat merusak peralatan elektronik. Namun, kemampuan alat tetap bergantung pada jenis dan ukuran api serta kondisi penggunaannya.Prestasi di Indonesia menjadi pencapaian penting bagi Ángela, siswi dari CETis 78 di Altamira, Tamaulipas, Meksiko.

Selain meraih medali emas dalam kategori teknologi pada ISIF 2026, ia juga dilaporkan memperoleh penghargaan IYSA Semi Grand Award. Keberhasilan tersebut menunjukkan bagaimana eksperimen ilmiah yang berawal dari masalah sederhana dapat berkembang menjadi inovasi yang menarik perhatian internasional.Meski menjanjikan, Vortex Tech masih berupa prototipe dan belum dapat dianggap sebagai pengganti alat pemadam api standar untuk semua situasi. Pengujian keselamatan, sertifikasi, serta evaluasi terhadap berbagai jenis kebakaran tetap diperlukan sebelum teknologi ini dapat digunakan secara luas. Untuk kebakaran besar atau keadaan darurat, masyarakat tetap harus menggunakan peralatan pemadam yang sesuai dan menghubungi petugas pemadam kebakaran.

Dwi Anggoro

Pewarta

Dwi Anggoro

seorang mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani kesehariannya dengan sederhana. Di sela aktivitas kuliah, Saya kerap menghabiskan waktu di angkringan untuk membaca, Menulis, dan menikmati suasana khas Jogja.