Aktivitas belajar mengajar di sejumlah sekolah di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih berlangsung dalam kondisi darurat setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah tersebut pada 15 Agustus 2026.

Gempa utama tersebut terjadi pada pukul 04.58 WIB dengan episentrum di laut sekitar 30 kilometer sebelah timur laut Nagekeo. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut merupakan gempa dangkal yang berkaitan dengan aktivitas Flores Back-arc Thrust. Gempa utama kemudian diikuti ribuan gempa susulan.

Dampaknya juga dirasakan sektor pendidikan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat hingga 10 September 2026 terdapat 2.447 satuan pendidikan yang terdampak di tujuh kabupaten, yakni Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka. Sebanyak 287.864 peserta didik serta 32.585 guru dan tenaga kependidikan tercatat terdampak langsung.

Di Manggarai Timur, sejumlah sekolah harus menggunakan lokasi sementara karena ruang kelas mengalami kerusakan atau belum dinyatakan aman untuk digunakan. Salah satunya SDK Santo Eduardus Borong. Mulai 7 September 2026, kegiatan belajar mengajar sekolah tersebut dilaksanakan di tiga tenda darurat yang didirikan di halaman depan Polres Manggarai Timur.
Sebelum menggunakan fasilitas tersebut, para siswa sempat menjalani pembelajaran dari rumah pada 31 Agustus hingga 5 September. Ketika kegiatan tatap muka kembali dilakukan, hari pertama diisi dengan kegiatan pemulihan emosional atau trauma healing sebelum pembelajaran akademik dilanjutkan.

Kondisi serupa juga terjadi di sekolah lain. Di SDK Tontang, Kecamatan Lamba Leda Selatan, beberapa bagian bangunan sekolah mengalami keretakan sehingga ruang kelas belum dapat digunakan secara optimal. Kegiatan belajar kemudian dilaksanakan di tenda darurat.
Pemerintah daerah dan masyarakat turut menyiapkan ruang belajar sementara. Di SDK Waelengga, Manggarai Timur, orang tua siswa dan komite sekolah bergotong royong membangun ruang kelas darurat menggunakan kayu dan bambu setelah sejumlah ruang kelas mengalami kerusakan akibat gempa.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah juga mendistribusikan 100 tenda kelas darurat senilai Rp5,5 miliar ke tujuh kabupaten terdampak. Sebanyak 27 tenda dialokasikan untuk Manggarai Timur, sementara sisanya didistribusikan ke Manggarai, Nagekeo, Manggarai Barat, Sikka, Ngada, dan Ende.
Pembelajaran tatap muka terbatas sendiri mulai dilakukan secara bertahap sejak akhir Agustus hingga awal September. Pemerintah memprioritaskan siswa kelas VI, IX, dan XII agar tetap memperoleh kesempatan mempersiapkan diri menghadapi Tes Kemampuan Akademik yang dijadwalkan pada Oktober.
Sementara itu, BMKG masih mencatat aktivitas gempa susulan di wilayah Flores. Pada 8 September 2026, misalnya, gempa berkekuatan magnitudo 5,1 terjadi di wilayah sekitar Manggarai Timur dan disebut sebagai bagian dari rangkaian gempa susulan setelah gempa M7,7 pada 15 Agustus.