
NASA Pantau Matahari Lewat Observatorium Jarak Jauh dan Misi Mendekat Ekstrem
NASA terus memperkuat pemantauan terhadap aktivitas Matahari dengan memanfaatkan dua observatorium andal: Solar Dynamics Observatory (SDO) dan Parker Solar Probe. Kedua misi ini menjadi tulang punggung riset Matahari modern, meski dijalankan dengan pendekatan yang sangat berbeda.
SDO, yang beroperasi dari orbit Bumi sejak diluncurkan pada 2010, berfokus pada pengamatan berkelanjutan terhadap permukaan dan atmosfer Matahari. Observatorium ini merupakan bagian dari program Living With a Star milik NASA, yang bertujuan memahami bagaimana variabilitas Matahari memengaruhi Bumi dan sistem antariksa di sekitarnya. Dengan instrumen pencitraan beresolusi tinggi, SDO memantau bintik Matahari, suar Matahari, hingga lontaran massa korona secara harian. Data tersebut berperan penting dalam memprediksi cuaca antariksa yang dapat berdampak pada satelit, jaringan listrik, dan sistem komunikasi di Bumi.
Sementara itu, Parker Solar Probe menjalankan misi yang jauh lebih ekstrem. Diluncurkan pada 2018, wahana ini dirancang untuk mendekati Matahari secara fisik hingga jarak yang belum pernah dicapai sebelumnya. Dengan perisai panas khusus, Parker Solar Probe menembus korona Matahari dan mempelajari sumber pemanasan korona, asal-usul angin surya, serta percepatan partikel berenergi tinggi. Pada Desember 2024, wahana ini mencatat rekor sebagai objek buatan manusia yang paling dekat dengan Matahari, dengan jarak sekitar 5,9 juta kilometer, dan tetap beroperasi dengan aman.
Kombinasi pengamatan dari SDO dan Parker Solar Probe memberikan gambaran yang saling melengkapi. SDO menyediakan pandangan menyeluruh dan kontinu dari kejauhan, sementara Parker menghadirkan data langsung dari lingkungan Matahari yang paling ekstrem. Sinergi kedua misi ini dinilai telah merevolusi pemahaman ilmuwan tentang fisika Matahari serta pengaruhnya terhadap seluruh Tata Surya.
Video: Matadunia25