Delapan aki yang menjadi sumber daya perangkat pemantauan Gunung Anak Krakatau (GAK) di Lampung Selatan dilaporkan hilang dan diduga dicuri. Kehilangan tersebut diketahui ketika tim Badan Geologi melakukan pemeriksaan serta perbaikan peralatan di kawasan gunung api pada 27 September 2026.
Peralatan yang hilang berada di Stasiun LV93, di sisi utara tubuh Gunung Anak Krakatau. Petugas menemukan dua boks penyimpanan aki telah dibongkar. Satu boks sebelumnya berisi enam aki, sementara boks lainnya berisi dua unit.

Pengamat Gunung Api Badan Geologi, Deny Mardiono, mengatakan satu aki memiliki bobot sekitar 20–30 kilogram. Dengan delapan unit yang hilang, total bobotnya diperkirakan mencapai 160–240 kilogram. Petugas juga menemukan jejak kaki di sekitar lokasi yang mengarah ke pantai, sehingga pencurian diduga melibatkan lebih dari satu orang.
Aki yang dicuri merupakan baterai Panasonic berkapasitas sekitar 75 ampere. Harga satu unit diperkirakan sekitar Rp3 juta sehingga total kerugian materiil akibat kehilangan delapan aki mencapai sekitar Rp24 juta.
Namun, dampaknya tidak hanya berupa kerugian materiil. Aki tersebut berfungsi sebagai sumber daya listrik untuk berbagai perangkat pemantauan dan membantu mengirimkan data aktivitas Gunung Anak Krakatau ke pos pemantauan. Gangguan pada perangkat di Stasiun LV93 sendiri telah terdeteksi sejak 16 September 2026 setelah aktivitas erupsi.
Untuk memulihkan pemantauan, Badan Geologi memasang dua aki cadangan. Untuk sementara, perangkat yang kembali dioperasikan adalah sistem seismik dan kamera CCTV karena dianggap penting untuk memantau aktivitas gunung api. Sejumlah perangkat lainnya belum seluruhnya diaktifkan karena keterbatasan sumber daya listrik.
Badan Geologi menyebut pencurian peralatan pemantauan di kawasan Anak Krakatau bukan kejadian pertama. Pada Februari 2026, perangkat pemantauan yang berada di Pulau Rakata juga dilaporkan menjadi sasaran pencurian. Petugas kemudian melakukan pemulihan dan perawatan peralatan agar sistem pemantauan tetap berjalan.
Badan Geologi mengimbau masyarakat dan nelayan di sekitar Selat Sunda untuk ikut menjaga perangkat pemantauan tersebut. Peralatan itu digunakan untuk menyediakan data aktivitas gunung api yang dibutuhkan dalam pemantauan dan mitigasi bencana.