
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan optimisme terhadap prospek pasar modal Indonesia. Ia meyakini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih memiliki ruang penguatan yang besar dan berpeluang menembus level 10.000 pada 2026. Keyakinan tersebut didasarkan pada semakin solidnya fundamental ekonomi nasional serta membaiknya sinkronisasi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil. Menurut Purbaya, kinerja pasar saham Indonesia sejatinya bisa berada pada level yang lebih tinggi apabila desain kebijakan ekonomi sebelumnya berjalan sesuai rencana. Ia menilai, dengan koordinasi kebijakan yang kini semakin terarah dan konsisten, potensi ekspansi IHSG ke depan terbuka lebar. Pemerintah, kata dia, terus berupaya menciptakan iklim kebijakan yang kondusif bagi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan kepercayaan investor. Optimisme tersebut disampaikan di tengah tren pemulihan IHSG yang cukup kuat sejak awal 2025. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat berada di kisaran 5–5,2 persen sepanjang tahun lalu, dengan inflasi yang tetap terkendali di bawah 3 persen. Arus investasi asing juga menunjukkan peningkatan, seiring berlanjutnya reformasi struktural, termasuk implementasi Undang-Undang Cipta Kerja serta percepatan pembangunan infrastruktur di berbagai daerah. Stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan proyeksi defisit anggaran yang dijaga di bawah 2,5 persen dari produk domestik bruto (PDB) turut memperkuat sentimen positif pasar. Namun demikian, Purbaya tidak menampik adanya sejumlah tantangan global yang berpotensi memengaruhi pergerakan IHSG, mulai dari fluktuasi harga komoditas dunia, ketegangan geopolitik, hingga kebijakan suku bunga The Federal Reserve yang masih berada di level tinggi. Secara historis, IHSG pernah menyentuh level 10.000 pada 2022 sebelum mengalami koreksi akibat dampak pandemi dan gejolak ekonomi global. Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa penguatan pasar tetap harus diiringi dengan kewaspadaan terhadap risiko eksternal. Bagi investor, prospek penguatan IHSG membuka peluang pada sejumlah sektor unggulan. Sektor perbankan, konsumsi domestik, serta energi terbarukan diperkirakan menjadi motor utama, sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi nasional di kisaran 5,5–6 persen pada 2026. Meski demikian, volatilitas jangka pendek masih berpotensi muncul, terutama menjelang agenda politik daerah maupun dinamika fiskal. Dalam kondisi tersebut, pelaku pasar diimbau tetap menerapkan strategi diversifikasi portofolio serta mencermati kinerja emiten, khususnya melalui laporan keuangan dan pelaksanaan rapat umum pemegang saham (RUPS) emiten berkapitalisasi besar sebagai dasar pengambilan keputusan investasi.