Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

Masjid Hamidiye di Turki Tampilkan Interior Unik Terinspirasi Ayat Al-Qur’an

Masjid Hamidiye di Kırşehir, Turki, memiliki interior unik yang terinspirasi Surah Al-Baqarah ayat 22. Lukisan air terjun, pepohonan, langit, dan karpet hijau menghadirkan suasana alam di dalam ruang ibadah.

Sebuah masjid di Turki menarik perhatian warganet karena memiliki desain interior yang tidak biasa. Masjid Hamidiye yang berada di Kırşehir menampilkan perpaduan arsitektur tempat ibadah dengan dekorasi alam, mulai dari karpet hijau menyerupai hamparan rumput, ornamen pohon yang menjulang, hingga lukisan air terjun berukuran besar pada bagian dinding. Suasana di dalamnya memberikan kesan sejuk dan tenang bagi jamaah yang datang untuk beribadah.

MASJID HAMIDIYE
Masjid Hamidiye atau Hamidiye Camii di Kırşehir, Turki dikenal karena arsitekturnya yang unik dan terinspirasi dari ayat di Al-Qur'an.

Foto interior masjid tersebut beredar di media sosial dan memunculkan berbagai tanggapan dari masyarakat. Tidak sedikit yang tertarik dengan cara desainnya menghadirkan gambaran alam di dalam ruang ibadah. Berbeda dari interior masjid yang umumnya menonjolkan kaligrafi, kubah, atau ornamen geometris, ruangan ini menghadirkan lanskap visual yang menyerupai taman dengan pepohonan, air, dan hamparan hijau.

INTERIORNYA DIRANCANG SEPERTI TAMAN SURGA
Masjid ini terkenal dengan interior bertema alam, terinspirasi Surah Al-Baqarah ayat 22, yang dirancang arsitek Azerbaijan sebagai gambaran taman surga.

Menurut unggahan akun Wahgenz, konsep desain masjid tersebut dikaitkan dengan Surah Al-Baqarah ayat 22. Ayat ini menjelaskan tentang bumi sebagai hamparan, langit sebagai atap, serta hujan yang diturunkan dari langit untuk menumbuhkan buah-buahan sebagai rezeki bagi manusia. Unsur-unsur tersebut kemudian dihubungkan dengan pilihan warna dan dekorasi yang terlihat pada bagian dalam masjid.

LANTAINYA MENYERUPAI BUMI DAN TANAH SUBUR
Karpet bermotif hijau dan cokelat menyerupai rumput serta tanah subur, melambangkan potongan ayat: "Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu."

Hamparan karpet hijau menjadi salah satu elemen paling menonjol. Warna tersebut memberikan kesan rumput atau tanah yang subur, sekaligus membuat ruang salat terlihat lebih luas dan menyatu dengan dekorasi di sekitarnya. Garis-garis berwarna cokelat pada karpet turut memperkuat kesan alami, sementara ornamen pohon tinggi di sisi ruangan menghadirkan suasana seperti berada di tengah taman.

KUBAHNYA DILUKIS SEPERTI LANGIT
Langit-langit kubah dihiasi lukisan langit biru dan awan putih, melambangkan potongan ayat: "Dan langit sebagai atap."

Pada bagian dinding, lukisan air terjun berwarna biru menjadi pusat perhatian. Aliran air yang digambarkan jatuh dari ketinggian memberikan kontras dengan warna hijau di bagian bawah dan warna terang di sekitar jendela. Komposisi ini menciptakan ilusi lanskap alam di dalam bangunan, seolah-olah jamaah sedang berada di ruang terbuka yang dikelilingi pepohonan dan air.

MIHRABNYA MENAMPILKAN AIR TERJUN
Lukisan air terjun di mihrab menggambarkan limpahan hujan dari langit, sebagai simbol potongan ayat: "Dan Dia menurunkan air dari langit."

Desain tersebut juga memiliki latar belakang sejarah. Masjid Hamidiye berada di kawasan Yenice, Kota Kırşehir, Turki bagian tengah. Bangunan awalnya didirikan sekitar 1908–1910 sebagai masjid kecil untuk masyarakat setempat. Seiring bertambahnya kebutuhan jamaah, bangunan lama kemudian dibongkar dan dibangun kembali. Masjid hasil pembangunan ulang ini mulai digunakan pada 2017 dengan tampilan interior yang jauh lebih khas.

MIMBARNYA MENYERUPAI BATANG POHON
Lukisan pepohonan dan mimbar menyerupai batang kayu melambangkan buah-buahan sebagai rezeki, sesuai potongan ayat: "Lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu."

Dalam proses perancangannya, pengelola masjid terinspirasi oleh Surah Al-Baqarah ayat 22. Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah menjadikan bumi sebagai hamparan, langit sebagai atap, menurunkan air dari langit, serta menumbuhkan buah-buahan sebagai rezeki bagi manusia.

SEMUA ELEMENNYA MERUJUK PADA SATU AYAT
Surah Al-Baqarah ayat 22 menjelaskan bumi sebagai hamparan, langit sebagai atap, hujan yang turun, dan buah-buahan sebagai rezeki bagi manusia.

Gagasan tentang bumi, langit, air, dan tumbuh-tumbuhan itu kemudian diterjemahkan menjadi elemen visual yang menghiasi bagian dalam masjid.Lukisan interiornya dikerjakan dengan bantuan seniman atau perancang dari Azerbaijan. Bagian langit-langit dihiasi gambaran langit dan awan, sementara pepohonan digambarkan di antara jendela-jendela tinggi. Di bagian mihrab, yaitu ceruk yang menandai arah kiblat, terdapat lukisan air terjun yang menjadi pusat perhatian. Sementara itu, karpet hijau di lantai melengkapi gambaran alam yang ingin dihadirkan di dalam ruangan.Kombinasi unsur tersebut membuat interior masjid terasa berbeda dari kebanyakan tempat ibadah. Cahaya alami yang masuk melalui jendela-jendela besar berpadu dengan warna hijau dan biru, menciptakan kesan ruang yang terang dan lapang. Dari sudut tertentu, lukisan air terjun dan pepohonan tampak menyatu dengan dekorasi lain sehingga menghadirkan ilusi seolah-olah jamaah sedang berada di tengah lanskap alam.Meski demikian, desain ini bukan berarti masjid benar-benar menggambarkan surga secara harfiah. Unsur alam yang digunakan merupakan interpretasi artistik terhadap ayat Al-Qur’an, khususnya gambaran bumi, langit, air, dan tumbuh-tumbuhan. Pendekatan tersebut menunjukkan bagaimana pesan keagamaan dapat diterjemahkan ke dalam karya seni dan arsitektur tanpa hanya mengandalkan kaligrafi atau pola geometris.Keunikan Masjid Hamidiye juga memperlihatkan bahwa arsitektur tempat ibadah dapat berfungsi lebih dari sekadar menyediakan ruang untuk salat. Desain ruang dapat membantu menghadirkan suasana yang mendukung ketenangan, refleksi, dan kekhusyukan. Bagi sebagian jamaah, dekorasi bernuansa alam mungkin memberikan pengalaman visual yang menenangkan ketika mereka beribadah atau membaca Al-Qur’an.Masjid ini pun menjadi daya tarik bagi pengunjung yang tertarik pada perpaduan seni, sejarah, dan arsitektur Islam. Namun, nilai utamanya tidak semata-mata terletak pada tampilannya yang unik, melainkan juga pada gagasan yang melatarbelakangi pembuatannya: mengingatkan manusia terhadap alam sebagai bagian dari ciptaan Allah dan sumber kehidupan yang patut disyukuri.Pada akhirnya, Masjid Hamidiye di Kırşehir menjadi contoh bagaimana inspirasi dari sebuah ayat dapat diwujudkan melalui desain ruang yang khas. Pepohonan, air terjun, langit biru, dan karpet hijau bukan hanya unsur dekoratif, tetapi juga simbol yang menghubungkan pengalaman beribadah dengan perenungan tentang bumi dan alam semesta.

Dwi Anggoro

Pewarta

Dwi Anggoro

seorang mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani kesehariannya dengan sederhana. Di sela aktivitas kuliah, Saya kerap menghabiskan waktu di angkringan untuk membaca, Menulis, dan menikmati suasana khas Jogja.