Aktor sekaligus aktivis lingkungan Leonardo DiCaprio menyoroti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Indonesia. Melalui akun Instagram pribadinya, DiCaprio membagikan video yang memperlihatkan kebakaran hutan serta dampaknya terhadap satwa liar, khususnya orangutan Kalimantan.
Dalam unggahan yang dibagikan pada awal Oktober 2026 tersebut, DiCaprio menyebut lebih dari 2 juta acre atau sekitar 800 ribu hektare hutan di Pulau Kalimantan dan Sumatera telah terbakar. Angka itu merupakan klaim yang disampaikan dalam unggahannya dan dikutip oleh sejumlah media, sehingga perlu dibedakan dari angka statistik pemerintah yang menggunakan cakupan dan metode pendataan tertentu.
DiCaprio juga mengaitkan kondisi kebakaran dengan perubahan iklim. Menurutnya, kondisi yang semakin kering dan panas membuat kawasan hutan di Kalimantan lebih rentan terbakar. Ia turut menyinggung kebakaran pada lahan gambut yang dapat melepaskan karbon tersimpan dalam jumlah besar ke atmosfer.

Salah satu perhatian utama dalam unggahan tersebut adalah nasib satwa liar. DiCaprio memperlihatkan seekor orangutan yang disebut berhasil diselamatkan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah dengan dukungan BOS Foundation. Orangutan tersebut kemudian mendapatkan perawatan dokter hewan.
Ia juga menyoroti ancaman terhadap owa berjanggut putih Kalimantan yang sebagian besar hidup di pepohonan. Ketika kebakaran meluas dan habitatnya terbakar, satwa tersebut memiliki ruang yang terbatas untuk menyelamatkan diri.
Selain satwa, DiCaprio menyebut lebih dari 5 juta orang telah terpapar asap kebakaran hutan. Dalam unggahannya, ia juga menyampaikan bahwa pemerintah Indonesia, petugas pemadam kebakaran, masyarakat lokal, organisasi konservasi, penyelamat satwa liar, dan peneliti ikut terlibat dalam penanganan kebakaran serta penyelamatan satwa.
Di sisi lain, data pemerintah menunjukkan karhutla memang masih menjadi persoalan serius di sejumlah wilayah. Kementerian Kehutanan melaporkan 1.271 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi terdeteksi secara nasional hingga 2 Oktober 2026. Perhatian utama diarahkan ke enam provinsi prioritas, termasuk Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Kehutanan
BNPB juga mencatat penanganan karhutla masih berlangsung di Sumatera dan Kalimantan. Pada periode 24–30 September 2026, tim gabungan memadamkan sekitar 3.799,73 hektare karhutla di enam provinsi prioritas.
Data BNPB per 30 September menunjukkan, misalnya, luas indikatif lahan terbakar di Kalimantan Barat hingga 28 September mencapai sekitar 38.310,86 hektare. Sementara di Kalimantan Tengah, pada 30 September terdapat 157,3 hektare lahan yang harus ditangani dan sekitar 27,6 hektare masih dalam proses pemadaman.
Dengan demikian, angka 800 ribu hektare yang disampaikan DiCaprio sebaiknya dipahami sebagai angka dalam materi kampanye atau unggahan yang ia bagikan, bukan sebagai angka resmi BNPB untuk keseluruhan karhutla Indonesia. Perbedaan angka dapat berkaitan dengan periode pengamatan, wilayah cakupan, serta metode penghitungan yang digunakan.
Unggahan DiCaprio tersebut kembali membawa persoalan karhutla Indonesia ke perhatian publik internasional, terutama terkait dampaknya terhadap hutan, masyarakat, serta habitat satwa yang terancam kehilangan tempat hidup akibat kebakaran.