Latvia kembali menjadi sorotan karena ketimpangan jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin. Negara di kawasan Baltik tersebut memang memiliki jumlah perempuan yang lebih banyak dibandingkan laki-laki, tetapi narasi media sosial tentang “Latvia kekurangan pria” perlu dilihat dengan konteks yang tepat.
Data Eurostat menunjukkan bahwa pada 1 Januari 2025, Latvia memiliki sekitar 15,6 persen lebih banyak perempuan dibandingkan laki-laki. Angka tersebut menjadi yang tertinggi di antara negara-negara Uni Eropa.
Data resmi Latvia juga menunjukkan bahwa pada awal 2025 terdapat sekitar 116 perempuan untuk setiap 100 laki-laki. Namun, ketimpangan tersebut tidak terjadi secara merata pada semua kelompok usia. Pada kelompok usia 15–49 tahun, proporsi perempuan dan laki-laki justru relatif seimbang, masing-masing sekitar 49 persen perempuan dan 51 persen laki-laki.
Perbedaan semakin besar pada kelompok usia lanjut. Menurut statistik Latvia, jumlah perempuan berusia 65 tahun ke atas sekitar dua kali lebih banyak dibandingkan laki-laki. Salah satu faktor utamanya adalah harapan hidup laki-laki yang lebih rendah.
Karena itu, istilah “kekurangan pria” tidak berarti Latvia hampir tidak memiliki laki-laki atau semua perempuan kesulitan mendapatkan pasangan. Ketimpangan demografi tersebut sangat dipengaruhi oleh struktur usia penduduk.
Narasi lain yang ikut viral adalah tentang layanan “husband for an hour” atau “suami selama satu jam”. Layanan semacam itu memang diberitakan tersedia di Latvia, tetapi bukan berarti perempuan menyewa pria sebagai pasangan romantis.

Layanan tersebut pada dasarnya merupakan jasa tukang atau pekerja serabutan untuk membantu pekerjaan rumah, seperti memperbaiki keran, memasang televisi, merakit furnitur, mengecat, memperbaiki peralatan, hingga mengangkat barang berat. Beberapa laporan menyebut layanan seperti Komanda24 dan Remontdarbi.lv.
Jadi, istilah “suami satu jam” lebih merupakan nama atau istilah pemasaran untuk jasa bantuan pekerjaan rumah. Bukan layanan menyewa pasangan hidup atau pria untuk hubungan romantis.
Kondisi demografi Latvia sendiri memang cukup serius. Pada awal 2026, jumlah penduduk negara tersebut sekitar 1,845 juta jiwa, turun 0,83 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025, Latvia mencatat 26.109 kematian dan hanya 11.931 kelahiran.
Jadi, klaim bahwa Latvia memiliki lebih banyak perempuan daripada laki-laki memang benar. Namun, narasi “negara kekurangan pria sehingga perempuan harus menyewa suami” merupakan penyederhanaan dari persoalan demografi dan keberadaan jasa tukang rumah tangga.