Kondisi langit di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, berubah menjadi kuning hingga oranye akibat kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pemandangan yang tidak biasa ini menjadi sorotan di media sosial dan memicu kekhawatiran masyarakat terhadap kualitas udara serta keselamatan warga.

Pada Rabu (14/10/2026), kabut asap pekat dilaporkan menyelimuti sejumlah kawasan di Palangka Raya. Asap mengurangi jarak pandang dan membuat suasana kota tampak gelap meski hari sudah siang. Kondisi tersebut juga terlihat di sekitar permukiman dan ruas jalan.

Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa perubahan warna langit terjadi karena banyaknya partikel asap di atmosfer. Partikel tersebut menghamburkan sekaligus menyerap cahaya matahari sehingga warna yang terlihat dari permukaan bumi dapat berubah menjadi kekuningan atau kemerahan.

Dampak karhutla tidak hanya terlihat pada perubahan warna langit. Kabut asap juga mengganggu aktivitas sehari-hari dan berpotensi membahayakan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki gangguan pernapasan. Warga dilaporkan mengalami kesulitan beraktivitas di luar ruangan karena udara yang tercemar.

Data yang diberitakan Media Indonesia berdasarkan catatan BPBD Kota Palangka Raya menyebutkan, luas lahan terbakar di wilayah kota mencapai sekitar 1.444 hektare. BPBD juga mencatat ratusan kejadian karhutla sejak Juni hingga 13 Oktober 2026. Angka tersebut menggambarkan besarnya tantangan penanganan kebakaran di wilayah tersebut.
Masyarakat diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan ketika asap pekat, menggunakan masker yang sesuai saat harus bepergian, serta mengikuti informasi kualitas udara dan arahan petugas. Penanganan karhutla dan perlindungan warga menjadi penting agar kondisi udara dapat kembali membaik dan aktivitas masyarakat berlangsung dengan lebih aman.