
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengonfirmasi temuan 62 kasus influenza A (H3N2) Subclade K hingga akhir Desember 2025. Kasus tersebut tersebar di delapan provinsi di Indonesia, dengan kondisi nasional dilaporkan masih terkendali dan tidak menunjukkan peningkatan keparahan penyakit.
Varian influenza yang kerap dijuluki sebagai “super flu” ini disebut lebih mudah menular dibandingkan flu musiman biasa. Meski demikian, Kemenkes menegaskan bahwa Subclade K tidak menyebabkan tingkat keparahan yang lebih tinggi. Mayoritas kasus tercatat menyerang perempuan dan kelompok anak-anak. Deteksi kasus dilakukan sejak Agustus 2025 melalui sistem surveilans sentinel ILI-SARI (Influenza Like Illness–Severe Acute Respiratory Infection). Dari total 843 spesimen positif influenza, sebanyak 348 sampel telah diperiksa menggunakan metode whole genome sequencing (WGS). Hasilnya mengonfirmasi keberadaan Subclade K yang juga tengah bersirkulasi secara global. Provinsi dengan jumlah kasus terbanyak antara lain Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Meski demikian, Kemenkes mencatat tren kasus influenza nasional justru mengalami penurunan dalam dua bulan terakhir. Otoritas kesehatan memastikan belum ditemukan indikasi peningkatan fatalitas maupun tekanan berlebih pada fasilitas layanan kesehatan. Subclade K pertama kali diidentifikasi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2025. Hingga kini, varian tersebut telah dilaporkan di lebih dari 80 negara, termasuk sejumlah negara Asia seperti Tiongkok, Jepang, dan Thailand. Karakteristik virus ini dinilai lebih agresif dengan gejala berupa demam tinggi hingga 39–41 derajat Celsius, nyeri otot berat, kelelahan ekstrem, batuk kering, serta sakit kepala dan tenggorokan yang intens. Dari sisi penularan, satu pasien Subclade K diperkirakan dapat menularkan virus ke dua hingga tiga orang. Kendati demikian, vaksin influenza tahunan masih dinilai efektif dalam mencegah kasus berat, dengan tingkat perlindungan sekitar 64–78 persen pada anak dan 41–55 persen pada orang dewasa. Kemenkes mengimbau masyarakat untuk tetap menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti rutin mencuci tangan, menerapkan etika batuk, menggunakan masker di tempat ramai, serta menjaga daya tahan tubuh melalui asupan gizi seimbang dan istirahat cukup. Masyarakat yang mengalami gejala influenza juga diminta tetap tinggal di rumah dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika keluhan tidak membaik dalam tiga hari. Vaksinasi influenza tahunan kembali direkomendasikan, khususnya bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan penyandang penyakit penyerta. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) turut menyoroti risiko yang lebih tinggi pada anak-anak dengan komorbid, terutama di wilayah yang terdampak banjir dan kondisi lingkungan kurang sehat. Pemerintah memastikan pemantauan akan terus dilakukan secara ketat seiring dengan dinamika evolusi virus influenza, sembari mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada tanpa panik.