Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

Kasus ISPA Meningkat, Gubernur Kalteng Nilai Karhutla Belum Perlu Berstatus Bencana Nasional

Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran menilai karhutla belum perlu berstatus bencana nasional meski berdampak pada kesehatan dan mata pencaharian warga. Ia menyebut kasus ISPA meningkat sekitar 30–40 persen dibandingkan hari biasa.

Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran, menyatakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayahnya belum perlu ditingkatkan statusnya menjadi bencana nasional. Pernyataan tersebut disampaikan saat diwawancarai di Rumah Jabatan Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), Jumat, 9 Oktober 2026.

Agustiar menegaskan bahwa penanganan karhutla masih terus berjalan. Meski demikian, ia mengakui kebakaran dan kemarau panjang telah berdampak terhadap kehidupan masyarakat, terutama petani, nelayan, dan pekerja buruh yang aktivitas serta penghasilannya terganggu.

Dampak lain yang menjadi perhatian adalah meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Agustiar menyebut berdasarkan pemantauan di rumah sakit, kasus ISPA mengalami kenaikan sekitar 30–40 persen dibandingkan hari-hari biasa.

Namun, ia mengingatkan bahwa peningkatan kasus ISPA tidak selalu disebabkan oleh kabut asap karhutla. Menurutnya, perubahan cuaca saat memasuki masa pancaroba juga dapat memicu gangguan pernapasan. Karena itu, kenaikan kasus ISPA tidak bisa dijadikan satu-satunya dasar untuk menentukan peningkatan status bencana.

Di sisi lain, dampak karhutla di Kalimantan Tengah masih menjadi perhatian karena mencakup kesehatan masyarakat, aktivitas pendidikan, serta mata pencaharian warga. Data yang dihimpun Lingkar Kalteng menyebut hingga 11 Oktober 2026, kebakaran telah mencapai 6.028 kejadian dengan luas lahan terbakar sekitar 17.724 hektare.

Perbedaan antara penilaian pemerintah mengenai status bencana dan dampak yang dirasakan warga menjadi sorotan dalam penanganan karhutla tahun ini. Pemerintah daerah menyatakan upaya pemadaman masih berlangsung, sementara kondisi kesehatan, kualitas udara, dan kegiatan ekonomi masyarakat tetap membutuhkan perhatian.

Catatan: Angka 91.342 kasus ISPA yang tercantum pada gambar belum dapat dipastikan dari sumber yang diperiksa. Lingkar Kalteng melaporkan angka 109.813 kasus ISPA hingga 6 Oktober 2026. Angka tersebut memiliki batas waktu pencatatan yang spesifik sehingga sebaiknya tidak dicampur dengan data dari periode lain tanpa penjelasan.

Dwi Anggoro

Pewarta

Dwi Anggoro

seorang mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani kesehariannya dengan sederhana. Di sela aktivitas kuliah, Saya kerap menghabiskan waktu di angkringan untuk membaca, Menulis, dan menikmati suasana khas Jogja.