
Kapolri Listyo Sigit Prabowo belum mengeluarkan pernyataan resmi yang menyebut “efek domino” perang Iran secara spesifik hingga 1 Maret 2026 malam, meski Polri secara umum meningkatkan pengawasan keamanan nasional akibat eskalasi global ini. Peringatan semacam itu lebih banyak muncul dari pengamat intelijen seperti Amir Hamzah, yang menyoroti risiko stabilitas domestik jika harga energi meledak akibat penutupan Selat Hormuz. Polri fokus antisipasi demonstrasi besar umat Islam terkait kematian Khamenei, solidaritas Palestina, dan dampak ekonomi seperti kelangkaan BBM.
Konflik AS-Israel-Iran berpotensi picu demonstrasi massal di Indonesia, negara Muslim terbesar, mirip aksi 1998 atau respons Gaza sebelumnya, dengan target kedutaan AS-Israel di Jakarta dan Surabaya. Polri sudah koordinasi dengan BIN dan Kemlu untuk lindungi WNI di Iran (sekitar 1.200 orang) serta pantau radikalisme online yang manfaatkan narasi “perang salib” pasca-serangan Teheran. JK peringatkan efek domino ke keamanan pangan dan transportasi jika logistik terganggu, berisiko kerusuhan sosial di daerah rawan seperti Papua atau Poso.
Penutupan Hormuz sudah dorong harga BBM nonsubsidi naik Rp 400–500/liter per 1 Maret 2026, dengan proyeksi Rp 2.000–5.000 lagi jika konflik berlarut, ancam inflasi 1-2% dan defisit APBN Rp 100-200 triliun. RI impor 60% minyak dari Timur Tengah, sehingga krisis ini bisa picu antrean SPBU panjang, mogok sopir angkot/truk, dan kenaikan harga sembako 15-20% seperti beras dan minyak goreng. Polri siaga lengkapi pengamanan kilang Pertamina dan pelabuhan utama seperti Tanjung Priok untuk cegah sabotase atau penimbunan.
Di tengah tawaran mediasi Prabowo dan desakan MUI mundur dari Board of Peace, Polri sinergi dengan TNI, Kemhan, dan Kesra untuk skenario terburuk termasuk cyber attack Iran proksi atau propaganda PD3. Pengamat sarankan tingkatkan intelijen dini soal potensi serangan asimetris dari kelompok terafiliasi IRGC di Asia Tenggara. Hingga kini, situasi keamanan RI terkendali, tapi Kapolri perintahkan seluruh Polda waspadai “efek domino” dari Teheran ke Jakarta via ekonomi dan sentimen umat.