Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

Kampung Matfa di Langkat: Warga Hidup Setara, Makan dari Dapur Umum, dan Saling Menanggung Kebutuhan

Kampung Matfa di Langkat, Sumatera Utara, dikenal sebagai Kampung Kasih Sayang karena menerapkan kehidupan komunal. Warga mengelola pertanian, peternakan dan usaha bersama, sementara kebutuhan pangan disiapkan melalui dapur umum dan dikelola secara gotong royong.

Di tengah kehidupan masyarakat yang umumnya berjalan dengan kepemilikan dan penghasilan masing-masing, terdapat sebuah komunitas di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, yang menerapkan pola hidup komunal. Kampung tersebut dikenal sebagai Kampung Matfa atau Kampung Kasih Sayang.

ADA KAMPUNG DENGAN CARA HIDUP YANG BERBEDA
Kampung Matfa berada di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Komunitas ini dikenal karena nilai kebersamaan dan kehidupan sosial yang dibangun secara kolektif.

Kampung Matfa berada di Dusun III Darat Hulu, Desa Telaga Said, Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat. Nama Matfa merupakan singkatan dari Majelis Ta’lim Fardhu Ain, sedangkan nama Kampung Darussalam juga digunakan untuk menyebut kawasan tersebut. Sejumlah pemberitaan menyebut komunitas ini berkembang sejak 2012.

BUKAN KEMEWAHAN YANG JADI UKURAN
Dalam gambaran kehidupan komunitas ini, kesederhanaan dan kesetaraan menjadi nilai penting. Rumah dan kebutuhan hidup tidak semata-mata dijadikan simbol status sosial.

Salah satu ciri utama kehidupan di sana adalah upaya mengurangi kesenjangan sosial. Warga hidup dengan prinsip kebersamaan dan gotong royong. Pekerjaan juga disesuaikan dengan kemampuan masing-masing, mulai dari pertanian, peternakan, perikanan hingga berbagai usaha kecil. Hasil kegiatan ekonomi kemudian dikelola untuk memenuhi kebutuhan bersama.

URUSAN MAKAN BISA JADI TANGGUNG JAWAB BERSAMA
Kehidupan komunal di Kampung Matfa dikenal dengan semangat saling memenuhi kebutuhan. Aktivitas memasak dan menyiapkan makanan menjadi gambaran nyata kebersamaan warga.

Sistem pangan menjadi bagian yang paling menarik perhatian. Kampung Matfa memiliki dapur umum yang dikelola secara bergiliran oleh warga. Makanan disiapkan untuk kebutuhan warga dan kemudian dibagikan kepada keluarga. Sumber pangan antara lain berasal dari hasil pertanian dan peternakan yang dikelola komunitas, sementara kebutuhan yang belum tersedia dipenuhi melalui pembelian dari luar.

HASIL KERJA WARGA KEMBALI UNTUK KEPENTINGAN BERSAMA
Warga mengelola berbagai usaha, mulai dari pertanian, peternakan hingga industri rumahan. Hasilnya dikelola untuk membantu memenuhi kebutuhan komunitas.

Penelitian mengenai kehidupan sosial Kampung Matfa juga mendokumentasikan mekanisme dapur umum tersebut. Warga yang mendapat jadwal memasak bekerja secara bergiliran, sementara makanan yang telah selesai dimasak dibagikan kepada keluarga berdasarkan jumlah anggota rumah tangga. Sistem ini dirancang agar kebutuhan pangan warga dapat ditanggung secara bersama.

DI SINI, KEBERSAMAAN JADI BAGIAN DARI KEHIDUPAN
Warga bukan hanya hidup berdampingan. Mereka juga menjalankan berbagai kegiatan sosial dan ekonomi secara kolektif, dengan prinsip saling membantu.

Selain pangan, komunitas tersebut mengembangkan berbagai kegiatan ekonomi. Di antaranya pertanian, peternakan ayam dan kambing, perikanan, pengolahan tahu, produksi batu bata, jajanan tradisional hingga usaha air mineral. Hasil dari berbagai kegiatan tersebut disebut masuk ke kas atau Baitul Mal yang digunakan untuk mendukung kebutuhan masyarakat.

UKURAN KEBERHASILAN BUKAN CUMA HARTA
Kehidupan di Kampung Matfa menonjolkan kesetaraan, rasa syukur, dan berbagi. Nilai-nilai ini menjadi dasar cara warga membangun kehidupan bersama.

Kampung ini juga memiliki fasilitas yang dikembangkan secara swadaya, termasuk masjid, sekolah, klinik kesehatan, jalan dan permukiman. Sejumlah sumber menyebut pendidikan serta layanan kesehatan bagi warga diberikan tanpa biaya dalam sistem komunitas mereka.

Karena pola hidup tersebut, Kampung Matfa kerap disebut sebagai “Kampung Kasih Sayang”. Prinsip yang sering disebut dalam berbagai laporan mengenai komunitas ini adalah kesabaran, rasa syukur dan berbagi. Namun, klaim bahwa seluruh warga “tidak pernah kelaparan” sebaiknya dipahami sebagai gambaran mengenai sistem ketahanan pangan dan solidaritas komunitas menurut berbagai laporan, bukan sebagai data statistik yang membuktikan tidak pernah ada satu pun warga mengalami kelaparan.

TERNYATA, HIDUP BERSAMA PUNYA CARA YANG BERBEDA
Kampung Matfa menunjulkkan bagaimana kebersamaan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah pengingat bahwa kepedulian sosial juga punya peran besar dalam kesejahteraan masyarakat.

Kampung Matfa juga memiliki sejarah dan dinamika keagamaan tersendiri. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara pada 2022 menerbitkan fatwa terkait pemahaman dan praktik syariat yang dikaitkan dengan Imam Hanafi, pimpinan pengajian Matfa. Hal tersebut menjadi bagian dari konteks yang perlu diketahui ketika membahas komunitas ini secara utuh, sehingga kisah Kampung Matfa tidak hanya dilihat dari sisi kehidupan komunal dan ekonominya.

Terlepas dari berbagai dinamika tersebut, Kampung Matfa tetap menjadi contoh menarik mengenai bagaimana sebuah komunitas mencoba memenuhi kebutuhan anggotanya melalui gotong royong, pengelolaan ekonomi bersama, dan sistem pangan komunal. Kehidupan mereka menunjukkan bahwa konsep berbagi tidak hanya diterapkan sebagai slogan, tetapi diwujudkan dalam aktivitas sehari-hari seperti bekerja, memasak dan memenuhi kebutuhan warga secara bersama.

Dwi Anggoro

Pewarta

Dwi Anggoro

seorang mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani kesehariannya dengan sederhana. Di sela aktivitas kuliah, Saya kerap menghabiskan waktu di angkringan untuk membaca, Menulis, dan menikmati suasana khas Jogja.