Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

Jaringan Penyiks**n Kucing di Internet Disorot, Investigasi Ungkap Konten Disebar untuk Mendapatkan Keuntungan

Bukan sekadar kasus penyiksaan hewan secara individual. Investigasi CNN mengungkap adanya jaringan online yang memproduksi dan menyebarkan konten kekerasan terhadap kucing untuk ditonton maupun diperjualbelikan. Kontennya bahkan menyebar lintas negara. Publik diminta tidak ikut menyebarkan ulang karena dapat memperluas jangkauan jaringan tersebut.

Kekerasan terhadap kucing kembali menjadi perhatian setelah investigasi internasional mengungkap adanya jaringan daring yang memproduksi dan menyebarkan konten penyiksaan hewan. Investigasi tersebut menyoroti bagaimana kekerasan terhadap kucing tidak hanya dilakukan secara individual, tetapi dalam sejumlah kasus terhubung dengan komunitas online dan distribusi konten lintas negara.

CNN dalam investigasinya menyebut jaringan tersebut menggunakan sejumlah platform komunikasi dan media sosial untuk berkomunikasi, menyebarkan, serta memperjualbelikan video kekerasan terhadap kucing. Investigasi dilakukan bersama sejumlah peneliti dari China dan organisasi Feline Guardians.

Menurut Feline Guardians, sebagian besar konten penyiksaan kucing yang mereka telusuri berasal dari China, tetapi penyebarannya bersifat internasional. Orang dari berbagai negara disebut dapat menjadi penonton, pembeli, maupun penyebar konten tersebut.

CNN juga melaporkan adanya peningkatan signifikan dalam produksi konten semacam itu. Menurut data yang disampaikan Feline Guardians kepada CNN, dalam periode kurang dari satu tahun terjadi peningkatan sekitar 500 persen dalam konten penyiksaan kucing yang terdokumentasi oleh kelompok tersebut.

Salah satu hal yang membuat jaringan ini sulit ditelusuri adalah penggunaan bahasa kode dan penyamaran identitas. CNN melaporkan bahwa sebagian anggota berusaha menyembunyikan aktivitas mereka, sementara kelompok yang lebih ekstrem bahkan menjadikan tindakan kekerasan sebagai syarat bagi anggota baru untuk masuk.

Feline Guardians menyebut jaringan tersebut telah berkembang sejak sekitar 2022 melalui berbagai platform komunikasi. Organisasi itu juga mencatat bahwa pada 2023 terdapat kasus yang mereka sebut sebagai “Cowcat”, seekor kucing yang menjadi simbol kampanye mereka setelah mengalami penyiksaan.

Persoalan hukum juga menjadi sorotan. CNN mengutip pakar hukum China yang mengatakan bahwa China belum memiliki undang-undang komprehensif khusus yang mengatur kekejaman terhadap hewan. Kondisi tersebut disebut menjadi salah satu kendala dalam menindak kasus kekerasan terhadap hewan yang dilakukan secara daring.

Namun, kasus ini tidak berarti masyarakat China secara umum mendukung kekerasan terhadap hewan. Feline Guardians sendiri menegaskan bahwa gerakan mereka bukan gerakan anti-China dan menyebut banyak relawan keturunan China justru terlibat dalam upaya menghentikan jaringan tersebut.

Masalahnya juga tidak terbatas pada China. Investigasi CNN menemukan bahwa pembuat atau pelaku yang terlibat dalam jaringan tersebut dapat berada di berbagai negara, sementara kontennya didistribusikan secara global. Artinya, persoalan ini telah berkembang menjadi masalah penyalahgunaan platform digital lintas negara.

Feline Guardians mengimbau masyarakat agar tidak menyebarkan ulang video penyiksaan, nama akun, maupun tautan menuju kelompok pelaku. Menurut organisasi tersebut, penyebaran ulang justru dapat membantu konten mendapatkan lebih banyak perhatian dan memperluas jangkauannya.

Karena itu, jika menemukan konten kekerasan terhadap hewan di internet, langkah yang lebih tepat adalah melaporkannya kepada platform terkait dan, bila memungkinkan, kepada aparat penegak hukum. Konten kekerasan juga sebaiknya tidak diunggah ulang dengan alasan edukasi tanpa penyuntingan dan konteks yang memadai.

Dwi Anggoro

Pewarta

Dwi Anggoro

seorang mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani kesehariannya dengan sederhana. Di sela aktivitas kuliah, Saya kerap menghabiskan waktu di angkringan untuk membaca, Menulis, dan menikmati suasana khas Jogja.