Lolosnya Timnas Indonesia ke final FIFA ASEAN Cup 2026 turut memicu perdebatan di media sosial antara warganet Indonesia dan Malaysia. Persaingan tersebut bahkan melebar hingga muncul seruan dari sejumlah pengguna media sosial Malaysia untuk memboikot produk dan merek asal Indonesia.

Polemik bermula setelah Indonesia mengalahkan Bangladesh dengan skor 9-2 pada pertandingan terakhir Grup A, Kamis (1/10/2026). Pada waktu yang sama, Malaysia menang telak 6-0 atas Singapura. Kedua tim sama-sama mengoleksi tujuh poin dan memiliki selisih gol +9, tetapi Indonesia unggul dalam jumlah gol yang dicetak sehingga berhak memimpin grup dan melaju ke final.

Hasil tersebut membuat sejumlah warganet Malaysia mempertanyakan tambahan waktu dalam laga Indonesia vs Bangladesh. Papan tambahan waktu sempat menunjukkan dua menit, tetapi kemudian berubah menjadi tujuh menit. Dua gol Indonesia pada masa tambahan waktu akhirnya mengubah skor dari 7-2 menjadi 9-2 dan memastikan posisi Indonesia di puncak klasemen.
Perdebatan di media sosial kemudian berkembang. Selain saling menuding mengenai pertandingan, muncul pula unggahan yang menyerukan boikot terhadap sejumlah produk kuliner Indonesia yang beroperasi di Malaysia.

Salah satu unggahan di Threads mencantumkan beberapa merek, antara lain Kenangan Coffee, Ai-Cha Ice Cream & Tea, MOMOYO, Sari Ratu, Waroeng Penyet, RM Cibiuk, serta produk Indofood. Unggahan tersebut mengajak pengguna lain untuk menyebarkan daftar tersebut.

Namun, seruan tersebut bukan kebijakan resmi pemerintah Malaysia. Ajakan boikot berasal dari pengguna media sosial tertentu. Bahkan, alasan yang disampaikan pengunggah tidak semata-mata berkaitan dengan sepak bola. Ia mengklaim terdapat konten dari pihak Indonesia yang dianggap menghina Raja Malaysia. Konten yang disebut sebagai sumber masalah tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Respons warganet Malaysia juga tidak sepenuhnya mendukung ajakan tersebut. Sebagian pengguna mempertanyakan dampaknya karena sejumlah merek yang masuk daftar menggunakan sistem waralaba atau memiliki pengelola lokal di Malaysia. Dengan demikian, boikot terhadap sebuah gerai berpotensi turut berdampak kepada pekerja dan pelaku usaha setempat.

Di sisi lain, rivalitas kedua negara di media sosial juga berkembang ke berbagai isu lain. Sejumlah unggahan bernada provokatif bahkan mulai membawa isu ras, sejarah, dan identitas nasional. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persaingan olahraga dapat dengan cepat melebar menjadi perdebatan di luar lapangan.

Meski seruan boikot mendapat perhatian besar di media sosial, hal tersebut tidak dapat dianggap sebagai representasi sikap seluruh masyarakat Malaysia. Hingga kini juga tidak terdapat informasi mengenai larangan resmi terhadap produk Indonesia di Malaysia.