
IHSG ditutup anjlok 1,04% atau 86,97 poin ke level 8.235,26 pada perdagangan BEI Kamis, 26 Februari 2026, dengan seluruh 11 sektor saham kompak tertekan dan 588 saham melemah.
Investor was-was akibat kekhawatiran tarif impor AS (seperti panel surya 104%), data inflasi AS, serta tekanan global termasuk rupiah di 16.753/USD.
Indeks LQ45 turun 0,61% menjadi 837,89, Kompas100 lemah 0,99% menjadi 1.157,75, dan IDX SMC Composite Composite Liquid turun 1,06%. Transaksi harian mencapai 3,14 juta kali dengan volume 56,5 miliar saham dan nilai Rp 28,1 triliun, didominasi net sell asing Rp 1,2 triliun pada saham blue chip. Level tertinggi IHSG 8.359,95 dan terendah 8.139,82, menunjukkan volatilitas tinggi sepanjang hari.
Sektor transportasi paling amblas 4,54%, diikuti energi -2,13%, siklikal konsumen -2,59%, infrastruktur -2,41%, dan properti -2,1%. Saham perbankan seperti BBRI (-1,2%), BBCA (-0,8%), dan BMRI (-1,5%) tekan sektor keuangan -0,52%, sementara saham maskapai seperti GARU dan GEMS anjlok karena sentimen harga BBM dan tarif penerbangan. Hanya sedikit saham hijau seperti CLEO (+7,5% ke Rp 430), tapi tak cukup mengangkat pasar.
Koreksi ini lanjutan dari rebound sebelumnya yang terhenti, memicu kekhawatiran proteksionisme AS pasca-tarif panel surya RI 104%, penyelidikan sektor perikanan, serta ekspektasi inflasi AS dan neraca perdagangan RI. Analis menyebut investor ambil keuntungan setelah reli, ditambah outflow asing dan rupiah lemah; prospek besok mengandalkan rilis data Februari 2026. Bursa regional Asia juga merah, dengan Hang Seng -1,2% dan Nikkei -0,8%, perkuat tekanan global.