Seorang bocah berusia 9 tahun di Singapura, Gregory Iman Zain, memiliki kebiasaan unik sekaligus positif. Ia gemar mengumpulkan botol dan kaleng bekas minuman untuk kemudian dikembalikan melalui mesin daur ulang.
Kebiasaan tersebut membuat Gregory berhasil mengumpulkan sekitar 200 wadah minuman bekas. Botol dan kaleng yang dikumpulkannya kemudian dikembalikan melalui mesin dalam program Beverage Container Return Scheme (BCRS).
Dari aktivitas tersebut, Gregory memperoleh sekitar 20 dolar Singapura atau setara kurang lebih Rp277.000. Nilai tersebut menjadi hasil dari kebiasaannya mengumpulkan wadah minuman yang sebelumnya dianggap sebagai sampah.
Gregory diketahui mulai tertarik dengan aktivitas daur ulang setelah mempelajarinya di sekolah. Ia kemudian menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari dengan mengumpulkan botol dan kaleng bekas.

Kisah Gregory menunjukkan bahwa edukasi mengenai lingkungan sejak usia dini dapat mendorong anak untuk melakukan tindakan nyata. Bukan hanya memahami pentingnya daur ulang, ia juga terlibat langsung dalam proses mengurangi sampah.
Program Beverage Container Return Scheme sendiri merupakan sistem pengembalian wadah minuman di Singapura. Konsumen dapat mengembalikan wadah minuman yang memenuhi ketentuan untuk mendapatkan pengembalian deposit.
Bagi Gregory, kegiatan tersebut bukan sekadar mendapatkan uang. Kebiasaan mengumpulkan botol dan kaleng juga menjadi cara sederhana untuk menjaga kebersihan lingkungan sekaligus belajar bahwa barang bekas masih memiliki nilai.
Kisah bocah ini menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat ditanamkan sejak usia sekolah. Dari kebiasaan mengumpulkan satu botol, anak-anak bisa belajar tentang pemilahan sampah, daur ulang hingga pentingnya menjaga lingkungan.