Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

Hakim Wisuda dengan Riasan Badut, Ternyata Ini Kisah Perjuangannya

Muhammad Hakim wisuda dengan riasan badut. Bukan sekadar hiburan, riasan itu menjadi simbol perjuangannya. Ia mulai bekerja sebagai badut sejak semester 3 setelah sang ayah meninggal dunia untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup dan biaya kuliah. Kini ia resmi menjadi sarjana dari UIN SGD Bandung.

Muhammad Hakim, mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung, menjadi perhatian di media sosial setelah video wisudanya viral. Dalam video tersebut, Hakim mengenakan toga sekaligus riasan wajah ala badut dan dirayakan bersama rekan-rekan seprofesinya.

Hakim merupakan salah satu wisudawan UIN SGD Bandung yang mengikuti prosesi wisuda pada Sabtu, 12 September 2026. Setelah prosesi selesai, ia bersama sejumlah rekan badutnya berkeliling merayakan kelulusannya.

Riasan badut itu bukan sekadar gaya untuk merayakan wisuda. Hakim telah menekuni profesi badut sejak semester tiga, setelah sang ayah meninggal dunia. Pekerjaan tersebut menjadi salah satu sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kuliahnya.

Bagi Hakim, riasan badut bukan sekadar hiburan. Penampilan tersebut menjadi simbol perjalanan hidupnya selama menempuh pendidikan tinggi.

Hakim mulai bekerja sebagai badut sejak duduk di semester tiga. Saat itu, sang ayah meninggal dunia sehingga ia harus mencari penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus membantu membiayai kuliahnya.

Pekerjaan tersebut kemudian terus ia jalani selama masa perkuliahan. Hakim mengaku tidak merasa diremehkan karena profesinya. Sebaliknya, sejumlah teman dan organisasi mahasiswa justru mengapresiasi pekerjaannya.

Hakim mengaku sempat mencari cara untuk membiayai kuliahnya setelah tidak berhasil mendapatkan Bidikmisi maupun KIP-K. Ia kemudian memilih menjadi badut ulang tahun karena sesuai dengan kemampuannya menghibur anak-anak.

Bahkan, profesinya sebagai badut membuat Hakim berkolaborasi dengan sejumlah organisasi mahasiswa dalam kegiatan sosial, termasuk acara santunan. Dengan demikian, pekerjaan yang awalnya dilakukan untuk mencari penghasilan tambahan juga menjadi bagian dari aktivitas sosialnya selama kuliah.

Saat wisuda, Hakim sengaja kembali mengenakan riasan badut sebagai bentuk rasa syukur. Bersama rekan-rekannya, ia membagikan makanan ringan dan kartu ucapan selamat kepada orang-orang di sekitar lokasi.

Bagi Hakim, riasan badut saat wisuda menjadi simbol perjuangannya. Ia ingin berbagi kebahagiaan bersama rekan-rekan yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Video momen itu kemudian ramai dibagikan dan viral di media sosial.

Melalui aksi tersebut, Hakim ingin menyampaikan pesan bahwa keterbatasan ekonomi tidak harus menjadi penghalang seseorang untuk meraih pendidikan dan cita-cita. Menurutnya, kemauan dan perjuangan tetap menjadi bagian penting dalam mencapai tujuan.

Setelah memperoleh gelar sarjana, Hakim berencana mencoba mengikuti seleksi CPNS. Meski demikian, ia tidak berniat meninggalkan profesi badut yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Kisah Hakim kemudian viral bukan hanya karena penampilannya saat wisuda, tetapi karena riasan badut tersebut memiliki makna tersendiri: pekerjaan yang dijalaninya sejak kehilangan sang ayah ikut mengantarkannya hingga berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi.

Dwi Anggoro

Pewarta

Dwi Anggoro

seorang mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani kesehariannya dengan sederhana. Di sela aktivitas kuliah, Saya kerap menghabiskan waktu di angkringan untuk membaca, Menulis, dan menikmati suasana khas Jogja.