Sosok Haji Haryanto, pemilik Perusahaan Otobus (PO) Haryanto, kembali menjadi perhatian setelah kisah ketegasannya terhadap karyawan kembali beredar di media sosial. Salah satu cerita yang pernah diungkap pihak perusahaan adalah ketika seorang sopir diberhentikan karena tidak menjalankan salat setelah sebelumnya diingatkan.

Kisah tersebut bukan peristiwa baru. Kejadiannya disebut berlangsung sekitar 2012–2013 dan kembali diberitakan dalam wawancara dengan detikTravel pada 2021. Saat itu, Rian Mahendra yang ketika itu menjabat Direktur Operasional PO Haryanto menceritakan bahwa ayahnya, Haryanto, pernah langsung memberhentikan seorang sopir yang mengabaikan perintah untuk salat.

Menurut cerita Rian, sopir tersebut sebelumnya sudah diingatkan untuk melaksanakan salat. Namun, setelah waktu salat selesai, Haryanto masih melihat sopir tersebut berada di luar dan tidak mengikuti salat. Keputusan pemberhentian kemudian diambil saat itu juga.
Rian menjelaskan, kebijakan tersebut berkaitan dengan nilai keagamaan yang sejak awal menjadi bagian dari konsep PO Haryanto. Ia menyebut para karyawan dipandang sebagai amanah sehingga perusahaan juga memberikan perhatian terhadap perilaku dan kebiasaan mereka.
Haryanto sendiri pernah menjelaskan bahwa ketegasan terhadap karyawan merupakan bagian dari prinsipnya dalam mengelola perusahaan. Dalam kasus sopir tersebut, ia memandang tindakan mengabaikan perintah langsung sebagai persoalan disiplin sekaligus bertentangan dengan nilai agama yang diterapkan di lingkungan perusahaan.

PO Haryanto memang dikenal memiliki identitas keagamaan yang cukup kuat. Dalam laporan detikTravel, Rian pernah menjelaskan bahwa pendirian perusahaan tersebut sejak awal dikaitkan dengan keinginan Haryanto untuk menjadikan bisnis sebagai bagian dari upaya memperbaiki diri dan menjalankan nilai-nilai Islam.

Kisah mengenai aturan salat ini juga bukan berarti setiap karyawan yang tidak salat langsung diberhentikan. Rian menjelaskan kepada detikTravel bahwa kasus tersebut hanya terjadi satu kali dan berlangsung sekitar 2012–2013.
Nama Haji Haryanto sendiri sebelumnya juga ramai diperbincangkan karena persoalan lain di internal perusahaan, yakni ketika ia memberhentikan putranya, Rian Mahendra, dari posisi Direktur Operasional pada 2022. Peristiwa tersebut baru diketahui publik secara luas pada akhir 2022 dan awal 2023.
Namun, dinamika keluarga dan perusahaan tersebut kemudian berubah. Pada 2026, Rian kembali masuk ke jajaran manajemen PO Haryanto dan kembali menjabat sebagai Direktur Operasional setelah polemik antara dirinya dan sang ayah berakhir.
Dengan demikian, cerita tentang sopir yang diberhentikan karena tidak salat merupakan kisah lama yang kembali beredar di media sosial, bukan kejadian baru yang berlangsung pada 2026. Kisah tersebut menggambarkan bagaimana Haryanto sejak dahulu menerapkan nilai keagamaan dan kedisiplinan sebagai bagian dari budaya perusahaan.