Unggahan media sosial yang memperlihatkan seorang pegawai sekolah bersama seorang siswa SMAN 1 Sanggar, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, menjadi sorotan publik. Foto tersebut ramai setelah beredar di Threads dan kemudian diunggah ulang oleh sejumlah akun media sosial.
Dalam unggahan yang beredar, pria yang disebut sebagai pegawai sekolah terlihat mengenakan seragam khaki, sementara siswa mengenakan seragam putih abu-abu. Keterangan dan tagar pada unggahan tersebut kemudian memunculkan narasi bahwa keduanya memiliki hubungan sebagai pasangan sesama jenis.

Namun, narasi di media sosial tidak dengan sendirinya membuktikan konteks hubungan kedua orang tersebut. Sejumlah laporan menyebut unggahan asli telah dihapus dan yang beredar saat ini berupa tangkapan layar serta unggahan ulang.
Pihak SMAN 1 Sanggar membenarkan bahwa sosok berinisial Y dalam unggahan tersebut merupakan pegawai tata usaha, bukan guru seperti yang disebut dalam sejumlah unggahan. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Syafrudin mengatakan Y merupakan tenaga administrasi berstatus PPPK paruh waktu.
Pihak sekolah juga menyebut Y telah dipanggil untuk mendapatkan pembinaan. Setelah unggahan tersebut ramai, yang bersangkutan juga menyampaikan permintaan maaf melalui media sosial karena dinilai berdampak terhadap citra SMAN 1 Sanggar.
Pemerintah Kabupaten Bima turut menindaklanjuti informasi yang beredar. Menurut laporan media lokal, informasi tersebut telah diteruskan kepada Inspektorat serta BKD dan Diklat untuk ditelusuri lebih lanjut.
Perhatian publik terutama tertuju pada fakta bahwa salah satu pihak merupakan pegawai sekolah dan pihak lainnya merupakan siswa. Karena itu, konteks interaksi, batas profesional antara tenaga sekolah dan peserta didik, serta aspek perlindungan siswa menjadi hal yang perlu diperiksa oleh pihak berwenang.
Kasus ini juga muncul ketika perhatian publik terhadap konten media sosial yang melibatkan lingkungan sekolah sedang tinggi. Karena itu, informasi yang beredar perlu dibedakan antara fakta yang telah dikonfirmasi dan klaim yang masih berasal dari unggahan media sosial.
Sampai informasi terbaru yang tersedia, belum ada keterangan resmi yang menyatakan adanya hubungan tertentu antara kedua pihak di luar apa yang ditampilkan dalam unggahan tersebut. Yang telah dikonfirmasi adalah status Y sebagai pegawai tata usaha, adanya pembinaan dari pihak sekolah, serta permintaan maaf setelah unggahan menjadi viral.
Dengan demikian, narasi “guru dan siswa menjadi pasangan” sebaiknya tidak ditulis sebagai fakta yang sudah terbukti. Fokus pemberitaan saat ini adalah viralnya unggahan, klarifikasi status pegawai sekolah, pembinaan, serta proses penelusuran pihak terkait.