Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

Gubernur Kalteng Bahas Solusi Karhutla, Ucapkan “Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Kawin Lagi”

Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran menjadi sorotan setelah berkelakar, “Bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi,” saat membahas karhutla. Di tengah perdebatan tersebut, data hingga 7 Oktober 2026 mencatat ribuan kejadian kebakaran dan lebih dari 17.000 hektare lahan terdampak berdasarkan laporan lapangan.

Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran, menjadi sorotan setelah melontarkan kalimat bernada candaan saat membahas upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pernyataannya, “Bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi,” ramai diperbincangkan di media sosial karena disampaikan ketika wilayahnya masih menghadapi persoalan kebakaran dan kekeringan.

Dalam video yang beredar, Agustiar menekankan pentingnya kerja sama berbagai pihak untuk menangani karhutla. Ia juga menyoroti faktor manusia sebagai salah satu penyebab utama kebakaran. Menurutnya, hampir 97 persen kejadian karhutla dipicu oleh aktivitas manusia. Pernyataan tersebut kemudian diikuti seloroh yang memancing beragam tanggapan dari masyarakat.

Sebagian warganet menilai ucapan tersebut sebagai candaan spontan. Namun, ada pula yang mempertanyakan ketepatan penyampaian pesan seorang kepala daerah ketika membahas bencana yang berdampak pada lingkungan dan kehidupan masyarakat.

Di luar polemik pernyataan tersebut, Kalimantan Tengah memang tengah menghadapi tantangan serius dalam pengendalian karhutla. Berdasarkan data Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Karhutla Kalteng per 7 Oktober 2026 yang diberitakan Suara.com, tercatat 5.848 kejadian kebakaran dengan luas lahan terdampak lebih dari 17.000 hektare.

Angka luas tersebut perlu dibaca sesuai metode pendataannya. Laporan lapangan dan estimasi berdasarkan citra satelit dapat menghasilkan angka berbeda. Data yang dirilis Vox Merdeka, misalnya, mencatat luas terdampak berdasarkan laporan lapangan sekitar 17.116 hektare hingga 6 Oktober 2026, sedangkan analisis citra satelit memperkirakan area terbakar sekitar 7.634 hektare.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah juga menjalankan sejumlah langkah penanganan, antara lain pembangunan sumur bor untuk membantu pemadaman dan menyediakan air bersih, pengerahan personel gabungan, serta distribusi air kepada masyarakat yang terdampak kekeringan. Penegakan hukum terhadap dugaan pembakaran lahan turut menjadi bagian dari upaya pengendalian.

Data yang diberitakan Suara.com menyebut sebanyak 13.699 personel gabungan telah dikerahkan dan 47 upaya penegakan hukum terkait karhutla telah dilakukan. Sementara itu, hingga 6 Oktober 2026, distribusi air bersih dilaporkan mencapai lebih dari 7,02 juta liter.

Pernyataan Agustiar akhirnya menjadi perbincangan tersendiri di tengah situasi tersebut. Namun, persoalan utama yang dihadapi masyarakat tetaplah pengendalian api, pencegahan kebakaran baru, perlindungan kesehatan dari asap, dan pemenuhan kebutuhan air bersih.

Karhutla membutuhkan koordinasi pemerintah, petugas lapangan, perusahaan, dan masyarakat. Pencegahan pembakaran lahan, pelaporan titik api sejak dini, serta penindakan terhadap pihak yang terbukti sengaja membakar lahan menjadi langkah penting agar kebakaran tidak semakin meluas.

Dwi Anggoro

Pewarta

Dwi Anggoro

seorang mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani kesehariannya dengan sederhana. Di sela aktivitas kuliah, Saya kerap menghabiskan waktu di angkringan untuk membaca, Menulis, dan menikmati suasana khas Jogja.