Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

Gencatan Senjata Rapuh di Perbatasan Preah Vihear

Thailand dan Kamboja sepakat gencatan senjata pada akhir Juli 2025 untuk meredakan konflik perbatasan yang memanas sejak Mei 2025, dipicu sengketa wilayah di sekitar kuil kuno Preah Vihear. Kesepakatan ini difasilitasi Perdana Menteri Malaysia…

Thailand dan Kamboja sepakat gencatan senjata pada akhir Juli 2025 untuk meredakan konflik perbatasan yang memanas sejak Mei 2025, dipicu sengketa wilayah di sekitar kuil kuno Preah Vihear. Kesepakatan ini difasilitasi Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim sebagai Ketua ASEAN, dengan mediasi tambahan dari Presiden AS Donald Trump melalui panggilan telepon ke pemimpin kedua negara. Namun, gencatan senjata sempat dilanggar hanya beberapa jam setelah mulai berlaku pada 29 Juli, dengan tuduhan saling serang di perbatasan.

​​

Latar Belakang Konflik

Ketegangan meledak 23-25 Juli 2025, dengan baku tembak, ranjau darat, dan serangan udara Thailand menggunakan F-16, menewaskan sedikitnya 16 orang (14 di Thailand, termasuk 13 warga sipil). Thailand tarik duta besar dari Phnom Penh dan umumkan darurat militer di delapan distrik perbatasan. Kamboja minta gencatan tanpa syarat via PBB, tapi Thailand beri syarat itikad baik dan dialog bilateral.

​​

Proses Sepakat

Pada 25-28 Juli, Thailand konfirmasi setuju gencatan via X Kemlu, meminta Kamboja hentikan serangan “membabi buta”. Pertemuan di Putrajaya hasilkan kesepakatan tanpa syarat mulai 29 Juli dini hari, meski pelanggaran cepat terjadi. Hingga akhir Juli, situasi rapuh dengan tuntutan tukar tawanan (20 tentara Kamboja ditawan Thailand).​

​

Status Terkini

Hingga 30 Juli 2025, gencatan dipertanyakan ketahanannya oleh media seperti DW, dengan kekhawatiran eskalasi ulang. Tidak ada update Desember 2025 yang konfirmasi pelanggaran baru; fokus kini dialog ASEAN demi perdamaian permanen.

 

 

Seka one

Penulis

Seka one

Penulis di Pewarta Nusantara.