Sejumlah gempa bumi terjadi di berbagai wilayah Indonesia pada Jumat (11/9/2026). Berdasarkan informasi BMKG, gempa berkekuatan magnitudo 5,2 mengguncang wilayah Maluku Barat Daya pada dini hari, disusul gempa magnitudo 4,7 di wilayah Donggala, Sulawesi Tengah, pada pagi hari.
1. Gempa Maluku Barat Daya

Gempa magnitudo 5,2 terjadi pada Jumat, 11 September 2026 pukul 01.44.43 WIB. Pusat gempa berada di laut, sekitar 46 kilometer tenggara Maluku Barat Daya, pada koordinat 8,57 derajat Lintang Selatan dan 127,81 derajat Bujur Timur.
Gempa tersebut tergolong dangkal dengan kedalaman sekitar 10 kilometer. Guncangan dirasakan dengan intensitas III MMI di Tiakur.
Skala III MMI berarti getaran dirasakan nyata di dalam rumah, seolah-olah ada truk yang melintas. Berdasarkan informasi yang diterima, tidak ada laporan mengenai kerusakan akibat gempa tersebut.
2. Gempa Donggala

Beberapa jam kemudian, gempa kembali dirasakan di Sulawesi Tengah. BMKG mencatat gempa magnitudo 4,7 terjadi pada pukul 07.53.46 WIB.
Pusat gempa berada di darat sekitar 40 kilometer utara Donggala dengan kedalaman 10 kilometer. Getarannya dirasakan pada skala III-IV MMI di Donggala serta II-III MMI di Palu dan Sigi.
Dengan skala III-IV MMI, guncangan dapat dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah dan sebagian benda ringan dapat ikut bergerak. Sementara skala II-III menunjukkan getaran dirasakan oleh sebagian masyarakat, terutama di dalam rumah.
3. Gempa Susulan Flores

Di tengah aktivitas gempa di sejumlah wilayah tersebut, BMKG juga terus memantau rangkaian gempa susulan setelah gempa besar magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026.
Dalam pembaruan hingga Jumat (11/9) pukul 05.00 WIB, BMKG mencatat total 14.518 gempa susulan. Magnitudo terbesar mencapai 6,2, sedangkan yang terkecil 0,9. Sebanyak 38 gempa memiliki magnitudo di atas 5, sementara 185 gempa susulan dilaporkan dirasakan masyarakat.
Gempa utama Flores M7,7 terjadi pada 15 Agustus 2026 pukul 04.58.23 WIB. BMKG mencatat episenternya berada di laut sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer. Gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas Flores Back-Arc Thrust dan pada saat kejadian sempat dinyatakan berpotensi tsunami.
BMKG menjelaskan bahwa setelah gempa utama, kerak bumi di sekitar sumber gempa masih mengalami proses penyesuaian sehingga menghasilkan rangkaian gempa susulan. Jumlah gempa susulan memang cenderung menurun dalam jangka panjang, tetapi dapat kembali meningkat atau berfluktuasi dari hari ke hari.
Sebelumnya, hingga 8 September 2026 pukul 11.00 WIB, BMKG telah mencatat 13.591 aktivitas gempa susulan dengan magnitudo terbesar 6,2. Angka tersebut kemudian terus bertambah hingga mencapai 14.518 kejadian pada 11 September.
BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang tidak bersumber dari kanal resmi. Masyarakat juga diminta menghindari bangunan yang mengalami kerusakan akibat gempa serta mengikuti perkembangan informasi dari BMKG.
Dengan demikian, gempa M5,2 di Maluku Barat Daya dan M4,7 di Donggala merupakan dua kejadian yang tercatat pada Jumat pagi, sementara wilayah Flores masih menghadapi rangkaian aftershock dalam jumlah besar setelah gempa utama M7,7 pada Agustus lalu.