Minggu, 25 Oktober 2026
Masuk
Berita

Gede Slamet, Sopir Truk yang Dibak*r Atasannya, Meninggal Setelah Sepekan Dirawat

Gede Slamet, sopir truk asal Karangasem, Bali, meninggal setelah menjalani perawatan intensif akibat luka bakar serius dalam dugaan penganiayaan oleh atasannya. Polisi kemudian memperbarui proses hukum terhadap tersangka setelah korban meninggal dunia.

Gede Slamet, seorang sopir truk asal Banjar Dinas Susut, Desa Muncan, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, Bali, meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif akibat luka bakar serius. Slamet dinyatakan meninggal di RSUP Prof. Ngoerah, Denpasar, pada Jumat (25/9/2026).

Slamet sebelumnya menjadi korban dugaan penganiayaan yang dilakukan atasannya, I Putu Cahyadi Putra. Peristiwa tersebut terjadi di rumah korban pada Jumat (18/9/2026), ketika Slamet sedang beristirahat karena sakit dan telah dua hari tidak bekerja.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun kepolisian, kejadian bermula dari persoalan setoran pekerjaan. Pelaku datang ke rumah korban untuk menagih setoran yang disebut telah tertunda. Perselisihan kemudian terjadi setelah korban hanya mampu menyerahkan sebagian uang yang diminta. Polisi menyebut bahan bakar kemudian digunakan dalam aksi pembakaran tersebut.

Kepergian Gede Slamet meninggalkan duka bagi keluarga dan orang-orang yang mengenalnya. Sosoknya disebut menjadi tulang punggung keluarga, sehingga kepergiannya juga membuat keluarga kehilangan sosok yang selama ini menjadi tempat bergantung.

Slamet mengalami luka bakar serius dan sempat mendapat penanganan di fasilitas kesehatan di Karangasem sebelum dirujuk ke RSUP Prof. Ngoerah di Denpasar. Laporan medis yang dikutip media menyebut korban mengalami luka bakar derajat 2B hingga 3 pada bagian tubuh tertentu serta trauma inhalasi.

Dalam proses penyidikan, I Putu Cahyadi Putra telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Karangasem. Penetapan tersebut dilakukan setelah penyidik mengantongi sedikitnya dua alat bukti yang sah.

Setelah Slamet meninggal dunia, kepolisian melakukan penyesuaian terhadap proses hukum yang berjalan. Polisi menyatakan pasal yang disangkakan kepada tersangka diperberat menyusul meninggalnya korban setelah menjalani perawatan selama sekitar sepekan. Radar Badung

Sebelum korban meninggal, kondisi keluarganya juga menjadi perhatian karena kebutuhan biaya pengobatan yang besar. Pemerintah desa bersama masyarakat sempat melakukan penggalangan dana untuk membantu keluarga Slamet. Pada 23 September, donasi yang terkumpul dilaporkan mencapai sekitar Rp24,5 juta, sementara kebutuhan perawatan diperkirakan mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Slamet disebut menjadi salah satu pencari nafkah bagi keluarganya. Kondisi ekonomi keluarga juga dilaporkan terbatas, dengan ayah korban yang bekerja sebagai buruh serabutan dan memiliki keterbatasan fisik. Setelah Slamet tidak dapat bekerja akibat luka yang dialaminya, keluarga turut menghadapi persoalan biaya perawatan.

Jenazah Slamet kemudian menjadi bagian dari proses penanganan lanjutan setelah kepolisian menyatakan korban meninggal dunia. Sementara itu, tersangka tetap menjalani proses hukum atas dugaan penganiayaan yang menyebabkan korban meninggal.

Sumber: detik.com
Dwi Anggoro

Pewarta

Dwi Anggoro

seorang mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani kesehariannya dengan sederhana. Di sela aktivitas kuliah, Saya kerap menghabiskan waktu di angkringan untuk membaca, Menulis, dan menikmati suasana khas Jogja.