Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

Fakta Memilukan di NTT: 94 Nyawa Hilang Perlahan di Tenda-Tenda Pengungsian

Sebulan pascagempa M7,7 Flores, BNPB mencatat 142 korban meninggal dunia. Sebanyak 48 orang meninggal akibat dampak langsung gempa, sedangkan 94 orang lainnya meninggal secara tidak langsung saat berada di pengungsian. 46.461 warga masih mengungsi dan 103.427 rumah mengalami kerusakan.

Sebulan setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), BNPB mencatat total korban meninggal dunia mencapai 142 orang.

Dari jumlah tersebut, 48 orang meninggal akibat dampak langsung gempa. Sementara 94 orang lainnya meninggal secara tidak langsung ketika berada di lokasi pengungsian. Data tersebut disampaikan BNPB hingga Selasa, 15 September 2026.

Sebulan pasca gempa Flores, derita penyintas belum usai. Sebanyak 94 nyawa dilaporkan hilang perlahan saat bertahan hidup di tenda-tenda pengungsian.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan jumlah korban yang meninggal di pengungsian menjadi bagian dari total korban jiwa bencana tersebut.

BNPB juga mencatat jumlah warga yang masih bertahan di pengungsian sebanyak 46.461 jiwa. Angka ini telah turun cukup signifikan dibandingkan sebelumnya yang sempat mencapai lebih dari 150 ribu orang.

Selain korban jiwa, gempa tersebut menyebabkan dampak kerusakan yang besar. BNPB mencatat 103.427 rumah mengalami kerusakan, meski data tersebut masih dalam proses validasi dan verifikasi.

Sebanyak 1.603 orang juga tercatat mengalami luka-luka akibat bencana tersebut. Kerusakan turut terjadi pada fasilitas pendidikan, rumah ibadah, fasilitas kesehatan, kantor, jalan, dan infrastruktur lainnya.

Aktivitas kegempaan di wilayah Flores juga masih berlangsung. BMKG mencatat ribuan gempa susulan setelah gempa utama 15 Agustus, meski frekuensi gempa susulan menunjukkan tren menurun.

BNPB bersama pemerintah daerah masih melakukan penanganan terhadap warga terdampak, termasuk validasi kerusakan rumah dan pemenuhan kebutuhan warga yang masih berada di pengungsian.

Data 94 korban meninggal di pengungsian menunjukkan bahwa dampak sebuah bencana tidak hanya terjadi ketika gempa utama berlangsung, tetapi dapat berlanjut selama masa tanggap darurat dan pemulihan.

Dwi Anggoro

Pewarta

Dwi Anggoro

seorang mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani kesehariannya dengan sederhana. Di sela aktivitas kuliah, Saya kerap menghabiskan waktu di angkringan untuk membaca, Menulis, dan menikmati suasana khas Jogja.