
Anggapan bahwa ibu lebih piawai mengelola keuangan keluarga bukan sekadar stereotip. Di Indonesia, pernyataan ini justru lebih mendekati fakta, seiring kuatnya peran ibu sebagai pengendali pengeluaran rumah tangga—hingga kerap dijuluki sebagai “Menteri Keuangan” keluarga.
Dalam praktik sehari-hari, ibu rumah tangga umumnya memegang kendali atas arus kas keluarga. Mulai dari mencatat pengeluaran harian, membedakan kebutuhan dan keinginan, hingga menekan pemborosan demi menjaga kestabilan ekonomi rumah tangga. Ketelitian saat berbelanja, kebiasaan membandingkan harga, serta pertimbangan matang sebelum mengeluarkan uang membuat ibu sering terlihat lebih hemat dibanding ayah yang fokus pada peran pencari nafkah utama.
Kebiasaan ini bukan tanpa alasan. Tanggung jawab terhadap kebutuhan anak, pendidikan, dan masa depan keluarga mendorong ibu untuk bersikap lebih disiplin dalam mengelola keuangan. Sikap yang kerap disalahartikan sebagai “pelit” tersebut justru merupakan bentuk kehati-hatian dan perencanaan jangka panjang.
Memasuki era modern, pola pengelolaan keuangan keluarga mulai mengalami pergeseran. Survei Orami tahun 2023 menunjukkan bahwa 53 persen keluarga Indonesia kini berstatus dual-earner, di mana ayah dan ibu sama-sama bekerja dan berkontribusi secara finansial. Meski demikian, ibu tetap memegang peran dominan dalam pengawasan pengeluaran sehari-hari, sementara keputusan keuangan besar cenderung diambil secara bersama.
Kolaborasi ini dinilai memperkuat ketahanan ekonomi keluarga. Pembagian peran yang lebih seimbang memungkinkan pengelolaan keuangan menjadi lebih transparan dan terkontrol, tanpa sepenuhnya menghilangkan peran tradisional ibu sebagai pengatur utama anggaran rumah tangga.
Di tengah tingginya biaya hidup—terutama di kota besar seperti Jakarta, di mana upah minimum provinsi kerap dianggap hanya cukup untuk kebutuhan dasar—peran ibu dalam mengelola keuangan menjadi semakin krusial. Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa pengelolaan keuangan keluarga yang baik berkontribusi pada kesehatan mental dan stabilitas emosional anggota keluarga.
Dengan demikian, anggapan bahwa ibu lebih cakap mengatur keuangan bukanlah mitos belaka. Di balik peran yang sering luput dari sorotan, ibu menjadi pilar penting dalam menjaga keberlanjutan ekonomi keluarga, baik dalam model rumah tangga tradisional maupun modern.