Minggu, 25 Oktober 2026
Masuk
Berita

Driver Ojol di Garut Bertahan dengan Penghasilan Terbatas untuk Mengasuh Puluhan Anak Yatim dan Dhuafa

Ade Muplihin, pengemudi ojek online asal Garut, diketahui mengasuh sekitar 30 anak yatim dan dhuafa dengan mengandalkan penghasilan dari pekerjaannya. Kisah tersebut pertama kali diberitakan pada 2024 dan kembali beredar di media sosial pada 2026.

Ade Muplihin, seorang pengemudi ojek online asal Kabupaten Garut, Jawa Barat, menjadi perhatian setelah kisahnya merawat puluhan anak yatim dan dhuafa beredar di media sosial. Ade disebut mengandalkan penghasilannya sebagai pengemudi ojek online untuk memenuhi kebutuhan anak-anak yang diasuhnya.

Pada 2025, kisah Ade Muplihin, 55 tahun, seorang driver ojek online asal Garut, mendapat perhatian publik. Dengan penghasilan sekitar Rp50 ribu per hari, ia tetap berjuang menghidupi 31 anak yatim dan dhuafa.

Kisah tersebut diberitakan oleh Merdeka.com pada Desember 2024 berdasarkan informasi dari Salam Mukti Foundation. Saat itu, Ade disebut berusia 55 tahun dan mengasuh sekitar 30 anak. Penghasilannya dari bekerja sebagai pengemudi ojek online dilaporkan tidak mencapai Rp50 ribu per hari.

Pada 2025, kisah Ade Muplihin, 55 tahun, seorang driver ojek online asal Garut, mendapat perhatian publik. Dengan penghasilan sekitar Rp50 ribu per hari, ia tetap berjuang menghidupi 31 anak yatim dan dhuafa.

Dengan penghasilan tersebut, kebutuhan sehari-hari anak-anak asuh tetap harus dipenuhi. Laporan mengenai kondisi mereka menyebut kebutuhan makanan menjadi salah satu persoalan yang dihadapi. Dalam keadaan tertentu, anak-anak disebut hanya mendapatkan makanan sederhana, termasuk mi instan.

Pak Ade mengabdikan dirinya untuk mengurus Panti Latiful Ikhwan di Garut. Di sana, ia bertanggung jawab membantu memenuhi kebutuhan 31 anak yatim dan dhuafa yang membutuhkan perhatian dan kepedulian.

Keterbatasan tersebut juga terjadi pada kondisi tempat tinggal. Salam Mukti Foundation menyebut beberapa bangunan tempat Ade merawat anak-anak mulai mengalami kerusakan dan membutuhkan perbaikan. Kondisi itu kemudian mendorong yayasan tersebut membuka penggalangan dana untuk membantu menyediakan tempat tinggal dan kebutuhan yang lebih layak bagi anak-anak asuh.

Dengan penghasilan yang terbatas, memenuhi kebutuhan puluhan anak bukanlah perkara mudah. Namun, Pak Ade tetap bekerja sebagai driver ojol dan menyisihkan hasilnya untuk kebutuhan makanan serta kehidupan sehari-hari mereka.

Penggalangan dana tersebut ditujukan untuk mendukung kebutuhan anak-anak yatim dan dhuafa yang berada dalam pengasuhan Ade. Dalam laporan Merdeka.com pada Desember 2024, dana yang terkumpul saat itu disebut telah melampaui Rp15 juta dari target Rp75 juta.

Ketika pemasukan sedang sulit dan donasi belum datang, Pak Ade harus mencari cara agar anak-anak tetap bisa makan.Bahkan, mi instan terkadang menjadi pilihan agar tidak ada anak yang tidur dalam keadaan lapar.

Kisah Ade kemudian kembali beredar melalui unggahan media sosial pada 2026. Namun, informasi mengenai jumlah anak asuh dan kondisi penggalangan dana dalam unggahan terbaru perlu dibedakan dari data yang diberitakan pada 2024. Sumber pemberitaan yang dapat diverifikasi menyebut sekitar 30 anak, sementara unggahan yang beredar menyebut angka 31 anak.

Meski hidup dalam keterbatasan, Pak Ade tetap memilih bertahan. la tidak ingin anak-anak yang telah ia rawat terlantar dan terus berusaha memastikan kebutuhan mereka terpenuhi semampunya.

Ade menjalani aktivitas sebagai pengemudi ojek online di tengah tanggung jawabnya memenuhi kebutuhan puluhan anak yang diasuh. Kisah tersebut memperlihatkan bagaimana pekerjaan dengan pendapatan harian digunakan untuk memenuhi kebutuhan pengasuhan yang jauh lebih besar dari kebutuhan rumah tangga biasa.

Dwi Anggoro

Pewarta

Dwi Anggoro

seorang mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani kesehariannya dengan sederhana. Di sela aktivitas kuliah, Saya kerap menghabiskan waktu di angkringan untuk membaca, Menulis, dan menikmati suasana khas Jogja.