Minggu, 25 Oktober 2026
Masuk
Berita

Divonis Kanker Stadium 4, Molly Kochan Memilih Menjalani Hidup dengan Caranya Sendiri

Molly Kochan didiagnosis kanker payudara stadium IV dan mengetahui penyakitnya tidak dapat disembuhkan. Ia kemudian berpisah dari suaminya dan mengeksplorasi kehidupan serta seksualitasnya. Bersama sahabatnya Nikki Boyer, kisah itu menjadi podcast “Dying for Sex”. Molly meninggal pada 2019, tetapi kisahnya kemudian diadaptasi menjadi serial TV pada 2025.

Kisah Molly Kochan kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Perempuan asal Amerika Serikat tersebut didiagnosis mengalami kanker payudara yang kemudian berkembang menjadi stadium IV. Kisah hidupnya kemudian menjadi inspirasi podcast berjudul “Dying for Sex” yang dibuat bersama sahabatnya, Nikki Boyer.

Molly pertama kali mengalami kanker payudara dan menjalani berbagai pengobatan, termasuk kemoterapi, radiasi, serta mastektomi bilateral. Setelah penyakitnya kembali dan menyebar ke sejumlah organ, pada 2015 ia mengetahui bahwa penyakitnya sudah berada pada tahap yang tidak dapat disembuhkan.

Diagnosis tersebut membuat Molly mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan. Ia kemudian berpisah dari suaminya dan mulai mengeksplorasi berbagai hal yang sebelumnya tidak ia jalani, termasuk kehidupan seksualnya. Kisah tersebut kemudian ia dokumentasikan bersama sahabatnya, Nikki Boyer.

Podcast “Dying for Sex” menceritakan perjalanan tersebut secara terbuka, termasuk berbagai pengalaman Molly dalam menjalin hubungan dengan laki-laki. Jumlahnya kemudian sering diberitakan sebagai hampir 200 pria. Beberapa sumber menyebut angka 188, sementara pemberitaan populer membulatkannya menjadi sekitar 200.

Namun, inti kisah Molly bukan semata-mata mengenai jumlah pasangan seksualnya. Dalam berbagai dokumentasi tentang kehidupannya, eksplorasi seksual tersebut digambarkan sebagai bagian dari upayanya menghadapi penyakit, mencari kebahagiaan, memahami dirinya sendiri, dan mengambil kembali kendali atas hidupnya.

Bersama Nikki Boyer, Molly kemudian membuat podcast “Dying for Sex”. Podcast tersebut baru dirilis pada 2020, setelah Molly meninggal dunia. Kisahnya kemudian diadaptasi menjadi serial televisi yang dirilis pada 2025.

Molly meninggal pada 8 Maret 2019 dalam usia 45 tahun. Sebelum meninggal, ia menulis sebuah tulisan di blog pribadinya berjudul “I Have Died”, yang memang telah disiapkan untuk dipublikasikan setelah kematiannya. Tulisan tersebut membahas kematian, kehidupan, serta bagaimana ia menjalani masa-masa terakhirnya.

Dalam tulisan tersebut, Molly tidak memberikan nasihat kehidupan yang bersifat umum. Ia justru menjelaskan bahwa setiap orang memiliki pengalaman dan cara masing-masing dalam menghadapi kematian. Tulisan itu kemudian menjadi salah satu bagian yang paling dikenang dari kisah hidupnya.

Kisah Molly kemudian semakin dikenal setelah podcast dan memoarnya, “Screw Cancer: Becoming Whole”, diterbitkan secara anumerta. Ceritanya juga menarik perhatian karena menggabungkan persoalan penyakit terminal, persahabatan, hubungan, seksualitas, dan penerimaan terhadap kematian.

Jadi, klaim dalam unggahan bahwa Molly “meniduri 200 pria” merujuk pada kisah nyata tentang eksplorasi seksualnya setelah diagnosis kanker terminal, tetapi angka yang beredar tidak selalu sama. Yang lebih penting, kisah tersebut merupakan bagian dari perjalanan pribadi Molly dalam menghadapi penyakit dan sisa hidupnya, bukan sekadar cerita tentang jumlah pasangan.

Dwi Anggoro

Pewarta

Dwi Anggoro

seorang mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani kesehariannya dengan sederhana. Di sela aktivitas kuliah, Saya kerap menghabiskan waktu di angkringan untuk membaca, Menulis, dan menikmati suasana khas Jogja.