Kisah perjuangan Nafisah Ahmad Zen Shahab, seorang ibu asal Palembang, Sumatera Selatan, menjadi inspirasi setelah berhasil membesarkan 12 anak, dengan 10 di antaranya berprofesi sebagai dokter. Perjalanan hidupnya tidak mudah, terutama setelah sang suami meninggal dunia pada 1996 ketika beberapa anaknya masih menempuh pendidikan.

Nafisah bukan berasal dari keluarga berlatar belakang kedokteran. Ia hanya menamatkan pendidikan hingga tingkat sekolah menengah atas (SMA), sementara suaminya, Alwi Idrus Shahab, merupakan sarjana ekonomi. Keluarga mereka mengandalkan usaha perdagangan batik untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus membiayai pendidikan anak-anak.

Setelah suaminya meninggal, Nafisah mengambil alih usaha batik yang sebelumnya dijalankan bersama keluarga. Ia meneruskan usaha tersebut sembari menjalankan perannya sebagai orang tua tunggal dan memastikan anak-anaknya tetap mendapatkan pendidikan yang layak.
Perjuangannya membuahkan hasil. Dari 12 anaknya, 10 berhasil menekuni profesi dokter, sementara dua lainnya berkarier di bidang berbeda. Lima dari anaknya yang menjadi dokter juga disebut berhasil menempuh pendidikan spesialis.

Dalam mendidik anak-anaknya, Nafisah mengedepankan kasih sayang, kelembutan, dan kedisiplinan. Ia tidak membiasakan kekerasan dalam pengasuhan dan memberi ruang bagi anak-anaknya untuk menentukan pilihan masa depan mereka sendiri.
Atas pencapaian keluarganya, Nafisah menerima penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) pada 3 Februari 2010. Penghargaan tersebut diberikan atas prestasi keluarganya yang memiliki 10 anak berprofesi sebagai dokter.

Kisah Nafisah menunjukkan bahwa keterbatasan pendidikan formal dan kehilangan pasangan tidak selalu menghentikan perjuangan sebuah keluarga. Ketekunan bekerja, perhatian terhadap pendidikan, serta pola asuh yang penuh kasih menjadi bagian penting dari perjalanan panjangnya mengantarkan anak-anak menuju cita-cita.