Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

Ditinggal Suami pada 1996, Nafisah Berjuang Besarkan 12 Anak, 10 di Antaranya Menjadi Dokter

Nafisah Ahmad Zen Shahab berjuang membesarkan 12 anak setelah suaminya meninggal pada 1996. Berkat ketekunan dan usaha batik, 10 anaknya berhasil menjadi dokter dan keluarganya menerima penghargaan MURI.

Kisah perjuangan Nafisah Ahmad Zen Shahab, seorang ibu asal Palembang, Sumatera Selatan, menjadi inspirasi setelah berhasil membesarkan 12 anak, dengan 10 di antaranya berprofesi sebagai dokter. Perjalanan hidupnya tidak mudah, terutama setelah sang suami meninggal dunia pada 1996 ketika beberapa anaknya masih menempuh pendidikan.

Nafisah Ahmad Zen Shahab, ibu asal Palembang, harus menghadapi kenyataan pahit ketika suaminya meninggal pada 1996. la harus melanjutkan perjuangan membesarkan 12 anak, meski dirinya hanya lulusan SMA.

Nafisah bukan berasal dari keluarga berlatar belakang kedokteran. Ia hanya menamatkan pendidikan hingga tingkat sekolah menengah atas (SMA), sementara suaminya, Alwi Idrus Shahab, merupakan sarjana ekonomi. Keluarga mereka mengandalkan usaha perdagangan batik untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus membiayai pendidikan anak-anak.

Sehari-hari, Nafisah berjualan batik demi menghidupi keluarga dan membiayai pendidikan anak-anaknya. Di tengah keterbatasan, ia tak pernah menyerah memperjuangkan masa depan mereka.

Setelah suaminya meninggal, Nafisah mengambil alih usaha batik yang sebelumnya dijalankan bersama keluarga. Ia meneruskan usaha tersebut sembari menjalankan perannya sebagai orang tua tunggal dan memastikan anak-anaknya tetap mendapatkan pendidikan yang layak.

Perjuangannya membuahkan hasil. Dari 12 anaknya, 10 berhasil menekuni profesi dokter, sementara dua lainnya berkarier di bidang berbeda. Lima dari anaknya yang menjadi dokter juga disebut berhasil menempuh pendidikan spesialis.

Perjuangannya tak sia-sia. 10 dari 12 anaknya berhasil menjadi dokter! Pada 3 Februari 2010, keluarga ini menerima penghargaan MURI atas pencapaian tersebut.

Dalam mendidik anak-anaknya, Nafisah mengedepankan kasih sayang, kelembutan, dan kedisiplinan. Ia tidak membiasakan kekerasan dalam pengasuhan dan memberi ruang bagi anak-anaknya untuk menentukan pilihan masa depan mereka sendiri.

Atas pencapaian keluarganya, Nafisah menerima penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) pada 3 Februari 2010. Penghargaan tersebut diberikan atas prestasi keluarganya yang memiliki 10 anak berprofesi sebagai dokter.

"PENDIDIKAN, KASIH SAYANG, DAN PERJUANGAN SEORANG IBU BISA MENGANTARKAN ANAK-ANAK MENUJU MASA DEPAN YANG LUAR BIASA

Kisah Nafisah menunjukkan bahwa keterbatasan pendidikan formal dan kehilangan pasangan tidak selalu menghentikan perjuangan sebuah keluarga. Ketekunan bekerja, perhatian terhadap pendidikan, serta pola asuh yang penuh kasih menjadi bagian penting dari perjalanan panjangnya mengantarkan anak-anak menuju cita-cita.

Dwi Anggoro

Pewarta

Dwi Anggoro

seorang mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani kesehariannya dengan sederhana. Di sela aktivitas kuliah, Saya kerap menghabiskan waktu di angkringan untuk membaca, Menulis, dan menikmati suasana khas Jogja.