Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

Di Indonesia Sering Diabaikan, Belimbing Wuluh di Korea Selatan Bisa Rp900 Ribu per Kg

Belimbing wuluh disebut dijual 7.800 won per 100 gram di Korea Selatan. Jika dihitung per kilogram, harganya setara sekitar Rp850 ribu-Rp900 ribu.

Belimbing wuluh yang mudah ditemukan di Indonesia menjadi perhatian setelah harga buah tersebut di Korea Selatan disebut mencapai 7.800 won untuk kemasan 100 gram.

Jika dikonversikan ke rupiah, harga tersebut berada di kisaran Rp85 ribu hingga Rp90 ribu per 100 gram. Dengan perhitungan sederhana, harganya setara sekitar Rp850 ribu sampai Rp900 ribu per kilogram. Informasi ini ramai setelah beredar tangkapan layar percakapan warga Indonesia dengan seseorang di Korea Selatan.

Harga tersebut tentu terlihat sangat berbeda dengan kondisi di Indonesia. Belimbing wuluh atau Averrhoa bilimbi merupakan tanaman tropis yang cukup mudah tumbuh dan kerap dijumpai di pekarangan rumah. Buahnya banyak digunakan sebagai bahan masakan karena memiliki rasa asam yang kuat.

Perbedaan harga tersebut antara lain berkaitan dengan ketersediaan. Indonesia memiliki iklim tropis yang sesuai untuk pertumbuhan belimbing wuluh, sedangkan Korea Selatan memiliki empat musim dengan musim dingin yang dapat membatasi budidaya tanaman tropis. Produk yang pasokannya terbatas juga dapat memiliki harga lebih tinggi karena membutuhkan distribusi dan penanganan khusus.

Sebagai perbandingan, sejumlah penawaran belimbing wuluh di pasar daring Indonesia menunjukkan harga yang jauh lebih rendah. Salah satu hasil pencarian bahkan mencantumkan belimbing wuluh segar 250 gram sekitar Rp6.000. Harga tentu dapat berbeda berdasarkan daerah, kualitas, dan penjual.

Meski demikian, angka Rp850 ribu-Rp900 ribu per kilogram tersebut sebaiknya dipahami sebagai ekstrapolasi dari harga 7.800 won per 100 gram yang beredar dalam tangkapan layar, bukan sebagai patokan harga seluruh pasar Korea Selatan. Belum ditemukan data resmi yang menunjukkan bahwa seluruh penjual di Korea Selatan menjual belimbing wuluh pada harga tersebut.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana komoditas yang dianggap biasa dan mudah diperoleh di Indonesia dapat memiliki nilai berbeda ketika berada di negara dengan kondisi iklim dan ketersediaan yang berbeda.

Dwi Anggoro

Pewarta

Dwi Anggoro

seorang mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani kesehariannya dengan sederhana. Di sela aktivitas kuliah, Saya kerap menghabiskan waktu di angkringan untuk membaca, Menulis, dan menikmati suasana khas Jogja.