Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

Dari Guru Honorer hingga Mengasuh Anak Yatim, Kisah Ayya Susi Damayanti di Bogor

Ayya Susi Damayanti awalnya dikenal sebagai guru honorer di Parungpanjang, Bogor. Ia kemudian mendirikan Istana Yatim Piatu dan Duafa Baitul Qorro untuk merawat anak yatim, dhuafa dan lansia. Untuk membiayai kegiatan, ia mengembangkan usaha kerajinan anyaman bambu bersama warga.

Ayya Susi Damayanti, seorang pendidik dari Parungpanjang, Kabupaten Bogor, dikenal karena kepeduliannya terhadap anak-anak yatim, dhuafa dan lansia. Di tengah kesibukannya mengajar, ia juga mengelola Istana Yatim Piatu dan Duafa Baitul Qorro di Desa Gintung Cilejet.

Kisah Ayya bermula dari aktivitas mengajar mengaji anak-anak di rumah. Jumlah anak yang datang kemudian terus bertambah hingga akhirnya ia bersama suaminya mendirikan lembaga untuk merawat dan mendampingi anak-anak yang membutuhkan.

Pada 2022, Ayya menyebut lembaganya mengasuh sekitar 150 anak, sebagian besar berasal dari keluarga yatim piatu dan dhuafa. Keterbatasan ekonomi juga membuat sejumlah anak yang dibinanya mengalami putus sekolah.

Kisah Ayya bermula dari kegiatan sederhana: mengajar mengaji anak-anak di rumah. Jumlah anak yang datang terus bertambah. Bersama suaminya, Ayya kemudian mendirikan lembaga untuk merawat dan mendampingi anak-anak yang membutuhkan.

Untuk membiayai kebutuhan mereka, Ayya tidak hanya mengandalkan penghasilannya sebagai guru. Ia bersama suami dan anak-anak binaannya mengembangkan usaha kerajinan berbahan bambu, seperti bakul, kipas dan tas. Hasil penjualan digunakan untuk membantu kebutuhan pendidikan dan keseharian anak-anak.

Pada 2022, Ayya menyebut lembaganya mengasuh sekitar 150 anak. Sebagian besar berasal dari keluarga yatim dan dhuafa. Kondisi ekonomi bahkan membuat sejumlah anak yang dibinanya mengalami putus sekolah.

Ayya juga pernah menceritakan bahwa kegiatan santunan Jumat Berkah dibiayai dari berbagai sumber, termasuk penghasilan pribadi, hasil penjualan produk UMKM, kerajinan tangan serta bantuan relawan. Bantuan yang diberikan antara lain perlengkapan sekolah, sembako dan uang saku.

Dedikasi tersebut kemudian mendapat perhatian publik. Pada September 2025, Ayya menerima penghargaan Metropolitan Award sebagai tokoh yang dinilai peduli terhadap anak yatim. Saat itu, media setempat melaporkan sekitar 125 anak berada dalam binaannya.

Untuk memenuhi kebutuhan anak-anak binaan, Ayya dan suaminya mengembangkan usaha kerajinan berbahan bambu. Mereka membuat berbagai produk seperti bakul, kipas dan tas. Hasil penjualannya digunakan membantu pendidikan dan kebutuhan sehari-hari.

Pemerintah Kabupaten Bogor juga memberikan apresiasi kepada Ayya. Pemkab menyebut ia rutin memberikan santunan dari penghasilannya sebagai guru serta hasil usaha kerajinan dan dukungan relawan.

Ada perkembangan penting terkait status pekerjaannya. Ayya sebelumnya dikenal sebagai guru honorer, tetapi menurut laporan Radar Bogor pada April 2026, ia telah diangkat menjadi guru PPPK Kabupaten Bogor pada 2024 dan tetap mengajar di SMPN 3 Parungpanjang.

Kepedulian Ayya kemudian mendapat perhatian publik. Pada September 2025, ia menerima penghargaan Metropolitan Award sebagai tokoh yang dinilai peduli terhadap anak yatim. Saat itu, sekitar 125 anak dilaporkan berada dalam binaannya.

Jumlah anak yang diasuh juga berubah seiring waktu. Dalam laporan April 2026, Ayya menyebut sekitar 91 anak yatim dan lansia masih berada dalam binaannya. Sebagian anak yang sebelumnya diasuh telah lulus dan menjadi mandiri.

Untuk menopang operasional lembaga, Ayya kemudian mengembangkan produksi kerajinan anyaman bambu dengan melibatkan orang tua anak-anak binaan. Sekitar 25 orang disebut terlibat dalam kegiatan tersebut dan produknya dipasarkan melalui media sosial.

Perjalanan Ayya juga mengalami perubahan. Menurut laporan Radar Bogor April 2026, ia telah diangkat menjadi guru PPPK Kabupaten Bogor pada 2024 dan tetap mengajar di SMPN 3 Parungpanjang. Saat itu, sekitar 91 anak dan lansia masih berada dalam binaannya.

Kisah Ayya menunjukkan perjalanan dari seorang guru yang awalnya membantu anak-anak di lingkungan sekitar hingga membangun kegiatan sosial yang lebih terorganisasi. Namun, angka jumlah anak yang dibina memang berubah dari tahun ke tahun sehingga perlu melihat tanggal laporan ketika menyebut jumlahnya.

Dwi Anggoro

Pewarta

Dwi Anggoro

seorang mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani kesehariannya dengan sederhana. Di sela aktivitas kuliah, Saya kerap menghabiskan waktu di angkringan untuk membaca, Menulis, dan menikmati suasana khas Jogja.