Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

Daftar Gunung Api Indonesia yang Paling Diwaspadai, Aktivitas Erupsi Kembali Meningkat pada 2026

Aktivitas gunung api Indonesia kembali menjadi perhatian. Per 9 September 2026, 5 gunung berada pada Level III/Siaga: Anak Krakatau, Semeru, Lewotobi Laki-laki, Merapi, dan Sinabung. Sepanjang 2026 hingga awal September, 11 gunung api tercatat mengalami erupsi. Semeru menjadi yang paling sering dengan sekitar 1.811 kejadian. Tetap ikuti informasi resmi PVMBG karena status gunung bisa berubah sewaktu-waktu.

Aktivitas vulkanik sejumlah gunung api di Indonesia kembali menjadi perhatian pada September 2026. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat terdapat lima gunung api yang berada pada Level III atau Siaga, sementara puluhan lainnya berstatus Waspada.

Indonesia sendiri memiliki lebih dari 100 gunung api aktif dan berada di kawasan Ring of Fire Pasifik. Kondisi geologi tersebut membuat aktivitas erupsi dan kegempaan vulkanik menjadi fenomena yang terus dipantau.

Berdasarkan data status gunung api per 9 September 2026, lima gunung api berada pada Level III atau Siaga. Status ini diberikan ketika hasil pengamatan menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik yang semakin nyata atau gunung sedang mengalami erupsi.

Berikut gunung api yang saat ini paling mendapat perhatian:

1. Gunung Anak Krakatau — Level III

Gunung Anak Krakatau menjadi perhatian terbesar pada awal September 2026 setelah mengalami episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam, mulai 4 September hingga 6 September.

Aktivitas tersebut menghasilkan kolom abu dan material vulkanik yang berdampak luas. Abu vulkanik bahkan mengganggu penerbangan di sejumlah wilayah dan menyebabkan beberapa bandara ditutup sementara.

Badan Geologi menyatakan aktivitas Anak Krakatau masih berlangsung dalam bentuk letusan berkala. Masyarakat dan wisatawan dilarang mendekati pusat aktivitas dalam radius 3 kilometer.

2. Gunung Semeru — Level III

Gunung Semeru di Jawa Timur merupakan salah satu gunung api dengan frekuensi erupsi tertinggi sepanjang 2026.

Data hingga 7 September mencatat sekitar 1.811 kejadian erupsi. Aktivitas Semeru juga disertai guguran lava dan potensi awan panas pada sektor tertentu.

Pada 6 September, Semeru kembali mengalami erupsi dengan kolom abu mencapai sekitar 1 kilometer di atas puncak.

3. Gunung Lewotobi Laki-laki — Level III

Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, juga berada pada status Siaga.

Sepanjang 2026 hingga 7 September, tercatat sekitar 859 kejadian erupsi. Aktivitasnya menjadi perhatian karena gunung ini memiliki sejarah erupsi eksplosif dan masih menunjukkan aktivitas vulkanik tinggi.

4. Gunung Merapi — Level III

Gunung Merapi yang berada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah juga masih berstatus Siaga.

Aktivitas Merapi lebih banyak berupa erupsi efusif, pertumbuhan kubah lava, guguran lava, serta awan panas guguran. Karena karakter bahayanya, kawasan tertentu di sekitar Merapi tetap berada dalam pengawasan ketat.

5. Gunung Sinabung — Level III

Gunung Sinabung di Sumatera Utara juga masih berada pada Level III atau Siaga.

Meski jumlah erupsi yang tercatat sepanjang 2026 relatif jauh lebih sedikit dibandingkan Semeru dan Ibu, status Siaga menunjukkan aktivitas gunung tersebut tetap membutuhkan kewaspadaan dan pemantauan intensif.

Selain lima gunung berstatus Siaga tersebut, sejumlah gunung api lain juga menunjukkan aktivitas yang perlu diperhatikan.

Gunung Ibu di Maluku Utara, misalnya, tercatat sekitar 1.501 kali erupsi hingga 7 September 2026. Namun, statusnya saat ini berada pada Level II atau Waspada. Gunung Dukono juga tercatat sekitar 230 erupsi sepanjang periode yang sama.

Secara keseluruhan, Badan Geologi mencatat 11 gunung api mengalami erupsi sepanjang 2026 hingga awal September. Jika data kejadian erupsi yang tersedia dijumlahkan, sedikitnya terdapat 4.682 kejadian erupsi, dengan Semeru dan Ibu menyumbang sekitar 70,73 persen dari total tersebut.

Meski demikian, banyaknya erupsi tidak otomatis berarti seluruh gunung memiliki tingkat bahaya yang sama. Karakter erupsi setiap gunung berbeda, mulai dari letusan eksplosif, erupsi efusif, guguran lava hingga awan panas.

Masyarakat di sekitar gunung api diminta tidak hanya melihat jumlah erupsi, tetapi mengikuti status resmi dan rekomendasi Badan Geologi/PVMBG. Status gunung dapat berubah sewaktu-waktu berdasarkan hasil pemantauan terbaru.

Dwi Anggoro

Pewarta

Dwi Anggoro

seorang mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani kesehariannya dengan sederhana. Di sela aktivitas kuliah, Saya kerap menghabiskan waktu di angkringan untuk membaca, Menulis, dan menikmati suasana khas Jogja.