Tradisi tahunan pengangkatan Buyut Kayu Perbatang kembali digelar di Situs Balong Keramat Pangeran Mancur Jaya, Desa Kertawinangun, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon. Prosesi sakral yang berlangsung setiap 19 Rabiul Awal itu merupakan rangkaian adat setelah peringatan Maulid Nabi di Keraton Kasepuhan dan Kanoman.
Buyut Kayu Perbatang, sebatang kayu keramat yang disucikan masyarakat setempat, memiliki sejarah panjang di kawasan tersebut.
Menurut penuturan juru kunci situs, kayu itu ditemukan oleh Pangeran Mancur Jaya ketika mencari sumber air di tengah kemarau panjang atas perintah Sultan Cirebon.
Benda itu diyakini sebagai bekas tempat duduk Pangeran Walangsungsang, pendiri Kesultanan Cirebon, saat bertapa di hutan belantara.
Ketika dihentakkan ke tanah, kayu itu disebut memancarkan air dan sejak itu dianggap sebagai pusaka yang harus dijaga.
Prosesi ritual dimulai dengan pembacaan shalawat, kemudian azan yang dilantunkan tujuh muazin.
Setelah itu, beberapa pria turun ke balong untuk mengangkat kayu dari dasar kolam.
Kayu keramat tersebut kemudian dimandikan menggunakan air kembang dan asap kemenyan sebelum dibungkus kain layaknya kafan.
Usai disucikan, kayu dikembalikan ke balong.
Warga yang hadir kerap berebut air balong yang diyakini membawa berkah dan dapat menolak sial.
Setiap tahun, prosesi ini menarik kedatangan masyarakat dari berbagai daerah. Namun kondisi situs kini mulai dikeluhkan karena kurangnya perawatan.
Komisi IV DPRD Kabupaten Cirebon menyatakan akan menindaklanjuti kebutuhan anggaran pemeliharaan agar situs bersejarah ini tetap terjaga.
Tradisi Buyut Kayu Perbatang menjadi salah satu warisan budaya lokal yang hingga kini masih bertahan, meski menghadapi tantangan keterbatasan fasilitas dan perhatian pemerintah.
Video: Wong Cirebon