Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

Bocah Jenius NASA Ini Menghabiskan 50 Tahun untuk Menemukan Arti Kebahagiaan Sebenarnya

Kim Ung-yong menunjukkan kecerdasan sejak bayi, mampu berbicara pada usia enam bulan, mengerjakan kalkulus dan aljabar saat anak-anak lain bermain, lalu diundang NASA ke Amerika Serikat ketika berusia delapan tahun. Setelah bertahun-tahun berada di lingkungan akademik dan merasa kehilangan masa kecil, ia kembali ke Korea dan menyadari bahwa kejeniusannya bukan satu-satunya ukuran kebahagiaan.

Kim Ung-yong dikenal sebagai anak dengan kemampuan luar biasa sejak usia sangat dini. Pada usia enam bulan, ia disebut sudah bisa berbicara, sebuah kemampuan yang menjadi awal dari perjalanan hidupnya sebagai anak jenius.

Kim Ung-yong memperlihatkan kecerdasannya sejak bayi dan sudah dapat berbicara pada usia enam bulan.

Ketika anak-anak seusianya masih bermain, Kim telah mampu mengerjakan soal kalkulus dan aljabar yang rumit. Kemampuan akademiknya membuat masa kanak-kanaknya berlangsung sangat berbeda dibandingkan kebanyakan anak lain.

Saat anak seusianya masih bermain, Kim sudah mampu mengerjakan soal kalkulus dan aljabar yang rumit.

Pada usia delapan tahun, Kim diundang ke Amerika Serikat oleh NASA. Ia kemudian menghabiskan hari-harinya di lingkungan laboratorium, berhadapan dengan dunia akademik dan sains sejak masih kecil.

Pada usia delapan tahun, Kim diundang NASA ke Amerika Serikat dan mulai menghabiskan hari-harinya di lingkungan laboratorium.

Pencapaian tersebut tidak sepenuhnya membuat hidup Kim berjalan tanpa persoalan. Meski memiliki kemampuan luar biasa, ia merasa kehilangan masa kecilnya setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan di Amerika Serikat.

Walau memiliki kemampuan luar biasa, Kim merasa kehilangan masa kecil dan akhirnya kembali ke Korea setelah bertahun-tahun di Amerika.

Kim akhirnya kembali ke Korea. Kepulangannya menandai perubahan arah dalam perjalanan hidupnya, dari lingkungan akademik dan sains yang telah lama membentuk masa kecilnya menuju kehidupan yang lebih sederhana.

Kim kemudian memahami bahwa menjadi jenius bukanlah satu-satunya hal yang penting.

Pengalaman itu membawanya pada kesadaran bahwa menjadi jenius bukanlah segalanya. Bagi Kim, kecerdasan dan pencapaian tidak menjadi satu-satunya ukuran kebahagiaan; perjalanan hidupnya justru memperlihatkan pentingnya menemukan keseimbangan dan makna personal di luar prestasi.

Erniyati Khalida

Penulis

Erniyati Khalida

Penulis tetap di Pewarta Nusantara ( pewartanusantara.com ). Konten spesial Budaya Nusantara.