Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

Bertahan di Laut hingga Enam Hari, Nelayan Anambas Ditemukan Selamat di Perairan Malaysia

Bachtiar (61), nelayan asal Kepulauan Anambas, ditemukan selamat di perairan Malaysia setelah hanyut akibat kehabisan bahan bakar dan perbekalan. Ia kemudian menjalani pemeriksaan kesehatan dan dipulangkan ke Indonesia pada 17 Oktober 2026.

Kabar menggembirakan datang dari Bachtiar (61), seorang nelayan asal Desa Genting Pulur, Kecamatan Jemaja Timur, Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau. Setelah dilaporkan hilang saat melaut, Bachtiar akhirnya ditemukan dalam keadaan selamat di perairan Malaysia pada 15 Oktober 2026. Ia ditemukan bersama perahu pompong miliknya oleh kapal pemancing Malaysia setelah terombang-ambing di laut akibat kehabisan bahan bakar dan perbekalan.

Bachtiar sebelumnya berangkat melaut untuk menangkap ikan di sekitar perairan Batu Bulu hingga Pulau Serak, wilayah Kecamatan Jemaja. Namun, ia tak kunjung kembali dan tidak dapat dihubungi sehingga keluarganya melaporkan kejadian tersebut kepada Unit Siaga SAR Jemaja. Laporan itu kemudian ditindaklanjuti dengan operasi pencarian oleh tim SAR.

Pencarian berlangsung selama beberapa hari hingga Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Natuna menerima informasi dari Maritime Rescue Sub-Centre (MRSC) Kuantan, Malaysia, pada Kamis sore, 15 Oktober 2026. Informasi tersebut menyebutkan bahwa seorang nelayan asal Indonesia ditemukan bersama perahu pompongnya di wilayah perairan Malaysia.

Lokasi penemuan berada di sekitar perairan Pulau Tioman, Pahang, Malaysia. Kepastian identitas Bachtiar diperkuat setelah anaknya, Sabriadi, membenarkan video yang memperlihatkan ayahnya bersama perahu tersebut kepada petugas Unit Siaga SAR Jemaja. Penemuan ini mengakhiri kekhawatiran keluarga setelah beberapa hari tidak mendapatkan kabar mengenai keberadaan Bachtiar.

Setelah ditemukan, Bachtiar dievakuasi oleh otoritas maritim Malaysia dan dibawa ke Pulau Tioman untuk menjalani pemeriksaan kesehatan. Proses pemulangan kemudian dikoordinasikan oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Johor Bahru bersama otoritas Malaysia dan instansi terkait di Indonesia.
Pada Sabtu, 17 Oktober 2026, Bachtiar akhirnya dijemput di perairan perbatasan Indonesia-Malaysia oleh tim gabungan. Pemulangan tersebut menjadi akhir dari pencarian dan upaya penyelamatan nelayan yang sempat hanyut hingga melintasi batas perairan kedua negara.Peristiwa ini menjadi pengingat akan besarnya risiko yang dihadapi nelayan ketika melaut, terutama saat mengalami gangguan mesin, kehabisan bahan bakar, atau kehilangan kemampuan berkomunikasi. Kondisi cuaca dan arus laut juga dapat membuat kapal kecil terbawa jauh dari lokasi awal hingga memasuki wilayah perairan negara lain.Menyusul kejadian tersebut, kepolisian dan pihak terkait mengimbau para nelayan untuk memeriksa kondisi kapal sebelum berangkat, memastikan persediaan bahan bakar dan logistik mencukupi, serta membawa alat navigasi, komunikasi, dan perlengkapan keselamatan. Langkah-langkah tersebut penting untuk mengurangi risiko kecelakaan dan membantu proses pencarian apabila terjadi keadaan darurat di laut.

Dwi Anggoro

Pewarta

Dwi Anggoro

seorang mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani kesehariannya dengan sederhana. Di sela aktivitas kuliah, Saya kerap menghabiskan waktu di angkringan untuk membaca, Menulis, dan menikmati suasana khas Jogja.