Minggu, 25 Oktober 2026
Masuk
Berita

Berawal dari Gelisah Setelah Kematian, Seniman Lampung Ciptakan Buku Yasin dengan Desain yang Tak Biasa

Bagaimana jadinya jika buku Yasin didesain dengan pendekatan visual yang lebih modern? πŸ“– Seniman asal Lampung Cahyo Destianto membuat buku Yasin dengan ilustrasi geometris dan warna-warni. Karya ini disebut berawal dari kegelisahan setelah mengalami kematian.

Sebuah buku Yasin dengan tampilan visual yang berbeda dari umumnya menarik perhatian di media sosial. Buku tersebut tidak hanya berisi teks bacaan Yasin dan doa, tetapi juga dilengkapi ilustrasi dengan gaya visual yang lebih modern dan artistik.

Karya tersebut dibuat oleh Cahyo Destianto, seniman asal Lampung yang disebut memiliki latar belakang desain komunikasi visual. Ia mengembangkan desain dan tata letak buku Yasin dengan pendekatan yang lebih eksperimental.

Dalam unggahan yang beredar, buku tersebut menampilkan ilustrasi geometris berwarna-warni di antara halaman-halamannya. Pemilihan warna, bentuk, serta tata letak dibuat berbeda dari buku Yasin konvensional yang umumnya menggunakan ornamen bernuansa religius.

Cahyo disebut mendapatkan ide tersebut setelah mengalami kegelisahan seusai kematian. Pengalaman tersebut kemudian mendorongnya untuk membuat sebuah karya yang tidak hanya memiliki fungsi sebagai buku bacaan keagamaan, tetapi juga mempunyai nilai visual.

Latar belakang Cahyo sebagai alumnus Desain Komunikasi Visual Institut Seni Indonesia Surakarta turut memengaruhi pendekatan yang digunakan. Dalam keterangan unggahan, ia juga disebut pernah menempuh studi di University of the Philippines.

Konsep visual tersebut kemudian diterapkan pada berbagai bagian buku, termasuk ilustrasi dan kemasan. Tujuannya adalah menghadirkan pengalaman membaca yang berbeda tanpa menghilangkan isi utama buku Yasin.

Karya ini pun mendapat perhatian warganet karena memperlihatkan bahwa desain komunikasi visual dapat digunakan untuk mengeksplorasi berbagai objek yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk buku keagamaan.

Meski demikian, detail mengenai proses kreatif, jumlah produksi, serta apakah buku tersebut sudah tersedia secara luas masih belum banyak ditemukan dalam sumber publik yang dapat diverifikasi. Penelusuran daring juga belum menemukan sumber institusi yang cukup kuat untuk mengonfirmasi seluruh profil dan riwayat pendidikan Cahyo sebagaimana tercantum dalam unggahan.

Yang jelas, karya tersebut memperlihatkan pendekatan berbeda dalam mendesain buku Yasin: mempertahankan fungsi utamanya sebagai bacaan keagamaan sekaligus memberikan ruang bagi eksplorasi visual.

Dwi Anggoro

Pewarta

Dwi Anggoro

seorang mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani kesehariannya dengan sederhana. Di sela aktivitas kuliah, Saya kerap menghabiskan waktu di angkringan untuk membaca, Menulis, dan menikmati suasana khas Jogja.