Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

Bangun Hutan Berbentuk Gitar sebagai Monumen Cinta untuk Istrinya

Sebuah hutan berbentuk gitar raksasa menghiasi hamparan lahan pertanian di dekat Kota Laboulaye, Provinsi Córdoba. Hutan unik itu bukan karya seniman atau arsitek lanskap, melainkan hasil keteguhan seorang petani, Pedro Martín Ureta, yang menanam…

Sebuah hutan berbentuk gitar raksasa menghiasi hamparan lahan pertanian di dekat Kota Laboulaye, Provinsi Córdoba. Hutan unik itu bukan karya seniman atau arsitek lanskap, melainkan hasil keteguhan seorang petani, Pedro Martín Ureta, yang menanam sekitar 7.000 pohon selama lebih dari 40 tahun sebagai penghormatan abadi untuk mendiang istrinya, Graciela.

Graciela, yang wafat mendadak pada 1977 akibat aneurisma otak dalam usia 25 tahun dan sedang mengandung, dikenal sangat mencintai gitar. Beberapa tahun sebelumnya, saat terbang bersama Ureta di awal pernikahan mereka, ia terinspirasi melihat ladang berbentuk ember susu dari udara. Ia lalu meminta suaminya membuat bentuk serupa—tetapi berupa gitar—di lahan mereka sendiri. Keinginan itu tak sempat terwujud semasa hidupnya.

Ditinggal sebagai duda dengan empat anak, Ureta memutuskan mewujudkan permintaan istrinya dua tahun setelah kepergiannya. Tanpa bantuan profesional lanskap, yang menganggap idenya terlalu gila, Ureta dan anak-anaknya merancang sendiri tata letak pohon. Mereka bahkan membariskan anak-anak di lapangan untuk menentukan garis dan posisi penanaman.

Kini, hutan gitar itu membentang hampir satu kilometer. Pohon cemara digunakan untuk membentuk badan gitar, sementara eukaliptus biru ditanam sebagai leher gitar agar kontras warna terlihat jelas dari udara. Di tahun-tahun awal, Ureta harus menghadapi gangguan hama, namun upayanya akhirnya berbuah monumen hidup yang subur dan megah.

Seiring waktu, hutan gitar tersebut menjadi simbol cinta abadi dan kerap viral di media sosial. Menjelang akhir November 2025, kisah ini kembali ramai dibicarakan di berbagai platform di Indonesia, menarik perhatian publik karena keteguhan dan dedikasi di balik karya alam yang luar biasa itu.

 

 

 

 

Dwi Anggoro

Pewarta

Dwi Anggoro

seorang mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani kesehariannya dengan sederhana. Di sela aktivitas kuliah, Saya kerap menghabiskan waktu di angkringan untuk membaca, Menulis, dan menikmati suasana khas Jogja.