Minggu, 25 Oktober 2026
Masuk
Berita

Bak Ratu Mesir, Istri Pejabat Dikipas Tangan Pada Acara Maulid Nabi di Banua Lawas

Di Banua Lawas, Tabalong, peringatan Maulid Nabi masih mempertahankan tradisi “Makan Batalam Bakipas Pangeran”. Warga makan bersama dalam satu talam dan menggunakan kipas tangan tradisional. Tradisi ini disebut telah diwariskan turun-temurun dan menjadi bagian dari budaya masyarakat setempat. Di era kipas listrik dan AC, tradisi seperti ini tetap dipertahankan sebagai bagian dari identitas budaya lokal.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kecamatan Banua Lawas, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, kembali menampilkan tradisi lokal yang menarik perhatian di media sosial.

Dalam kegiatan yang digelar pada Senin, 14 September 2026, masyarakat Banua Lawas menggelar Gebyar Maulid dan Doa Bersama sekaligus mempertahankan tradisi “Makan Batalam Bakipas Pangeran”. Kegiatan berlangsung di Lapangan 17 Mei Banua Lawas.

Makan batalam merupakan tradisi makan bersama menggunakan satu talam atau nampan besar. Tradisi ini telah dilakukan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari peringatan Maulid Nabi di wilayah Banua Lawas.

Pada pelaksanaannya, sejumlah peserta makan bersama dalam satu talam, sementara kipas tangan tradisional digunakan untuk mengipasi orang yang sedang makan. Penggunaan kipas tersebut menjadi bagian dari tradisi yang dikenal sebagai “Bakipas Pangeran”.

Tradisi ini kembali menjadi perhatian setelah foto dan video pelaksanaannya beredar di media sosial. Sebagian warganet mempertanyakan penggunaan kipas tangan tersebut dan mengaitkannya dengan kesan feodal, sementara pihak lain melihatnya sebagai bagian dari adat dan warisan budaya setempat.

Pemerintah dan masyarakat setempat menyebut Makan Batalam Bakipas Pangeran sebagai warisan budaya yang perlu dijaga. Tradisi makan batalam sendiri telah berlangsung lebih dari satu abad dan diwariskan antargenerasi.

Pada pelaksanaan tahun ini, tradisi tersebut melibatkan masyarakat dari seluruh desa di Kecamatan Banua Lawas, instansi tingkat kecamatan, serta sejumlah sekolah. Tercatat ada 22 stan dengan total 806 talam yang disiapkan.

Selain menjadi bagian dari peringatan Maulid Nabi, kegiatan tersebut juga menjadi ruang berkumpul dan mempererat silaturahmi masyarakat. Nilai kebersamaan, gotong royong, dan berbagi menjadi bagian penting dari tradisi makan dalam satu talam.

Dengan tetap menggunakan perlengkapan tradisional di tengah kehidupan modern, Makan Batalam Bakipas Pangeran menunjukkan bagaimana sebuah tradisi lokal masih dipertahankan dalam kegiatan keagamaan masyarakat Banua Lawas.

Dwi Anggoro

Pewarta

Dwi Anggoro

seorang mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani kesehariannya dengan sederhana. Di sela aktivitas kuliah, Saya kerap menghabiskan waktu di angkringan untuk membaca, Menulis, dan menikmati suasana khas Jogja.